Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tertekan Inflasi, Pedagang Pasar Khawatir Daya Beli Masyarakat Makin Turun

Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) memperkirakan tekanan inflasi berpotensi makin menekan daya beli masyakarat.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 29 September 2022  |  14:42 WIB
Tertekan Inflasi, Pedagang Pasar Khawatir Daya Beli Masyarakat Makin Turun
Pedagang merapikan bawang merah jualannya di Pasar Mandonga, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (27/6/2022). ANTARA FOTO - Jojon
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menyatakan tekanan inflasi berpotensi menyebabkan turunnya daya beli masyarakat. Selain itu, naiknya berbagai harga barang di pasar juga telah membuat banyak pihak ketar-ketir, khususnya para pedagang pasar tradisional.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pada September ini inflasi akan naik sebesar 0,77 persen. Sebaliknya, BI memproyeksikan laju inflasi 2022 bisa mencapai 6,5 persen (year on year/yoy). Melonjaknya inflasi salah satunya disebabkan karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Sekretaris Jenderal APPSI Mujiburrohman mengatakan tekanan inflasi tersebut berpotensi dapat menyebabkan turunnya daya beli masyakarat. Selain itu, naiknya berbagai harga barang di pasar juga telah membuat banyak pihak ketar-ketir, khususnya para pedagang pasar tradisional.

Dia pun memperkirakan tidak stabilnya harga-harga kebutuhan pokok dan barang-barang yang memiliki perputaran cepat di pasar akan terus berlangsung seiring dengan situasi ekonomi yang belum pasti.

“Sebelum desas-desus BBM saja, sudah banyak barang yang harganya naik. Yang ramai itu harga telur yang naik sampai ke Rp 31 ribu per kg, padahal biasanya hanya Rp 25 ribu per kg. Itu saja sudah banyak yang protes karena harganya terlalu mahal,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (29/9/2022).

Mujiburrohman menjelaskan angka pengunjung pasar juga akan semakin menurun apabila dampak inflasi tidak ditangani dengan baik. Pemerintah seharusnya memperhatikan dan melihat dari sisi pedagang pasar yang harus mengeluarkan biaya operasional yang lebih besar jika terjadi kenaikan inflasi.

"Saat ini, para pedagang pasar juga mengalami kesulitan modal. Kondisi masyarakat belum pulih benar sehingga daya beli masyarakat juga berkurang. Hasil (berjualan) saat ini hanya habis untuk makan dan kadang juga mengurangi modal,” ujarnya.

Kepala Bidang Organisasi APPSI Don Muzakir menambahkan kenaikan harga barang memiliki efek ganda yang cepat. Dia mencontohnya situasli lainnya yang dapat menekan pedagang pasar ialah rencana kenaikan cukai rokok. Menurutnya rokok merupakan salah satu barang konsumen yang berpengaruh terhadap pendapatan dan penjualan pedagang pasar.

“Pedagang pasar dan asongan adalah pedagang yang merasakan dampaknya kalau kenaikan harga barang melonjak naik. Tidak hanya barang kebutuhan pokok, tapi kalau kenaikan cukai akan naik dengan tinggi lagi, maka para pedagang pun akan kesusahan untuk berjualan, padahal modalnya saja sudah besar sekali,” tuturya.

Maka dari itu, APPSI meminta pemerintah untuk mengkaji ulang berbagai kebijakan yang berlangsung saat ini. Kenaikan harga barang akan meningkatkan angka inflasi tahunan nasional yang merugikan seluruh pihak, baik bagi pedagang pasar maupun konsumen.

Muzakir juga berpesan agar pemerintah terus memantau perkembangan kondisi pedagang pasar dan sigap memberikan insentif yang dibutuhkan demi meningkatkan kesejahteraan mereka.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Agustus sebesar 4,69 persen (year-on-year/yoy). Meskipun masih berada di atas 4 persen, tingkat inflasi pada Agustus 2022 masih relatif rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat mencapai 4,94 persen pada Juli 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi Pasar Tradisional daya beli
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top