Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi Tahunan September 2022 Diproyeksi Tembus 6 Persen

Kenaikan harga BBM turut mendorong kenaikan harga jasa transportasi dan distribusi yang juga dapat memicu kenaikan harga barang dan jasa lainnya.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 29 September 2022  |  11:19 WIB
Inflasi Tahunan September 2022 Diproyeksi Tembus 6 Persen
Petugas mengganti papan informasi jelang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di sebuah SPBU, Jakarta, Sabtu (3/9/2022). Pemerintah menetapkan harga Pertalite dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10 ribu per liter, Solar subsidi dari Rp5.150 per liter jadi Rp6.800 per liter, Pertamax nonsubsidi naik dari Rp12.500 jadi Rp14.500 per liter berlaku pada Sabtu 3 September 2022 mulai pukul 14.30 WIB. ANTARA FOTO/Galih Pradipta - wsj.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Laju inflasi pada September 2022 diperkirakan meningkat signifikan, terutama disebabkan oleh kenaikan harga BBM.

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan inflasi pada September 2022 mencapai 1,29 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

“Indeks Harga Konsumen diperkirakan melonjak sebesar 1,29 persen secara bulanan, terutama didorong oleh kenaikan harga Pertalite dan Solar, masing-masing sebesar 30,72 persen dan 32,04 persen,” katanya, Kamis (29/9/2022).

Kenaikan harga BBM turut mendorong kenaikan harga jasa transportasi dan distribusi yang juga dapat memicu kenaikan harga barang dan jasa lainnya.

Secara tahunan, inflasi pada September 2022 diperkirakan melonjak ke level 6,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Faisal memperkirakan laju inflasi inti juga terlihat menguat karena pelonggaran PPKM, serta sebagai dampak dari putaran kedua akibat penyesuaian harga BBM.

Inflasi inti pada September 2022 diperkirakan sebesar 3,47 persen secara tahunan.

Laju inflasi diperkirakan terus meningkat tinggi pada sisa tahun ini, hingga mencapai level di atas 6 persen pada akhir 2022.

Kenaikan dipicu oleh membaiknya permintaan di tengah pelonggaran PPKM, kenaikan harga bahan pangan dan energi, serta penyesuaian harga bensin dan solar bersubsidi.

“Dampak kenaikan harga BBM diperkirakan tidak hanya memberikan first round effect pada administered price, tetapi juga second round effect terhadap barang dan jasa lainnya,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi tekanan inflasi laju inflasi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top