Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Masyarakat Kesal! IKN dan Kereta Cepat Tetap Jalan saat Harga BBM Naik

Mengacu pada percakapan di dunia maya, masyarakat mengaku kesal karena proyek IKN dan Kereta Cepat tetap jalan saat harga BBM naik.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 15 September 2022  |  14:25 WIB
Aktivitas proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di salah satu tunnel atau terowongan di kawasan Tol Purbaleunyi KM 125, Cibeber, Cimahi Selatan, Jawa Barat, Kamis (2/4/2020). Bisnis - Rachman
Aktivitas proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di salah satu tunnel atau terowongan di kawasan Tol Purbaleunyi KM 125, Cibeber, Cimahi Selatan, Jawa Barat, Kamis (2/4/2020). Bisnis - Rachman
Bagikan

Pembahasan serupa pernah disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yakni mengenai biaya peluang (opportunity cost) dalam penggunaan APBN. Dia mencontohkan bahwa anggaran subsidi BBM sebenarnya dapat berguna untuk pembangunan berbagai sarana dan fasilitas, seperti sekolah, puskesmas, maupun jalan tol.

"Kalau kita menggunakan Rp502.4 triliun anggaran untuk subsidi BBM, berarti Rp502,4 triliun itu atau opportunity cost-nya akan hilang untuk dipakai untuk membangun hal-hal lain, apakah itu di bidang kesehatan membangun rumah sakit, di bidang pendidikan membangun sekolah, atau meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan para pendidik," ujar Sri Mulyani dalam webinar Zoonomics, Minggu (11/9/2022).

Dia pun pernah menyampaikan hal serupa setelah rapat koordinasi Kemenko Perekonomian terkait kebijakan subsidi BBM pada Agustus 2022—yang bermuara pada keputusan naiknya harga BBM. Kala itu, Sri Mulyani membandingkan kebutuhan anggaran subsidi dan kompensasi energi senilai Rp502,4 triliun dengan berbagai pembangunan.

Dia menyebut bahwa total anggaran subsidi dan kompensasi itu dapat setara dengan biaya pembangunan 3.333 rumah sakit skala menengah, dengan asumsi biaya Rp150 miliar per rumah sakit. Lalu, total anggaran itu pun dapat digunakan untuk pembangunan 227.886 sekolah dasar, dengan asumsi biaya Rp2,19 miliar per sekolahnya.

"Kalau kita concern mengenai kesehatan ini, 41.666 puskesmas yang kita bisa bangun [asumsi biaya Rp12 miliar per unit puskesmas] di seluruh tanah air terutama di daerah tertinggal, terluar, yang mereka jelas tidak menikmati subsidi yang Rp502,4 triliun," ujar Sri Mulyani saat itu.

Logika perhitungan opportunity cost pun berlaku bagi belanja lainnya dari pemerintah, seperti pembangunan IKN. Pernyataan Sri Mulyani mengenai subsidi BBM pun berlaku terhadap pembangunan IKN, yakni bahwa banyak masyarakat, terutama mereka di daerah tertinggal dan terluar tidak akan menikmati manfaat dari belanja anggaran untuk pembangunan IKN.

Total biaya pembangunan IKN Nusantara senilai Rp466 triliun setara dengan pembangunan sekitar 3.107 rumah sakit, 212.785 sekolah dasar, dan 38.833 puskesmas. Lalu, dengan asumsi biaya Rp142,8 miliar per kilometer seperti yang disampaikan Sri Mulyani, anggaran IKN setara dengan pembangunan 3.263 ruas tol baru.

Total biaya pembangunan IKN Rp466 triliun memang tidak seluruhnya berasal dari kantong APBN. Presiden Joko Widodo berjanji hanya akan menggunakan APBN untuk 20 persen dari total biaya—meskipun sebelumnya dia menyebut tidak akan menggunakan APBN sama sekali.

Apabila mengacu kepada janji itu, total alokasi APBN untuk pembangunan IKN menjadi sekitar Rp93,2 triliun. Dengan dana tersebut, pemerintah dapat membangun sekitar 621 rumah sakit, 42.557 sekolah dasar, 7.692 unit puskesmas, dan 653 ruas tol baru.

Pemerintah menyatakan bahwa alokasi anggaran pembangunan IKN pada 2022 adalah sekitar Rp5 triliun. Dari belanja tersebut, terdapat opportunity cost yang setara dengan pembangunan 33 rumah sakit, 2.283 sekolah dasar, 416 puskesmas, dan 35 ruas tol baru.

1 dari 0 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sri mulyani Harga BBM Kereta Cepat
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top