Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemenparekraf: Meski Berdarah-darah, Pariwisata Bisa Bertahan

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2021 mencapai 1,56 juta orang, dari target 1,5 juta orang.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 24 Agustus 2022  |  16:55 WIB
Kemenparekraf: Meski Berdarah-darah, Pariwisata Bisa Bertahan
Wisatawan lokal berkunjung ke Desa Wisata Kuta, Lombok usai acara Superbike. Sirkuit Mandalika kini menarik perhatian wisatawan lokal untuk berfoto di sekitar sirkuit. - Bisnis/Novita Sari Simamora
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melaporkan bahwa sektor pariwisata berhasil bertahan sepanjang pandemi Covid-19 di 2020 dan 2021.

Menteri Parekraf Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan capaian kementerian yang dipimpinnya tersebut telah melebihi target-target yang telah ditetapkan untuk 2021, seperti halnya ekspor ekonomi kreatif yang mencapai US$23,90 miliar.

“Nilai ekspor ini Alhamdulillah memberikan suatu semangat kita dari target US$15,95 loncat capaiannya hampir US$24 miliar,” ujarnya dalam Rapat Kerja Komisi X DPR, Rabu (24/8/2022).

Selain itu, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2021 mencapai 1,56 juta orang, dari target 1,5 juta orang. Untuk jumlah pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 603,02 juta perjalanan. Angka tersebut berhasil melampaui target sebanyak 198-220 juta perjalanan.

Dari capaiannya tersebut, pariwisata Indonesia berhasil naik 12 peringkat menjadi posisi 32 di Travel and Tourism Development Index 2021.

Adapun 5 wisman teratas yang melakukan perjalanan ke Indonesia, yakni Timor Leste (819.500 kunjungan), Malaysia (480.700 kunjungan), China (54.700 kunjungan), Papua Nugini (31.700 kunjungan), dan Amerika Serikat (21.960 kunjungan).

Meskipun telah sesuai target, jumlah kunjungan wisman menurun bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Selaras dengan jumlah wisman, Wakil Menparekraf Angela Tanoesoedibjo menambahkan bahwa devisa pariwisata mengalami penurunan pada 2020 minus 80 persen dibandingkan 2019 karena ada pandemi Covid-19, dan turun kembali di 2021 dibandingkan 2020.

Adanya kebijakan pembatasan perjalanan untuk menanggulangi pandemic Covid-19 berdampak pada sektor pariwisata di 2020 yang sangat bergantung dengan perjalanan wisatawan baik mancangera maupun nusantara.

“Dampaknya terlihat dari penurunan nilai kontribusi pariwisata pada ekonomi nasional dari 4,9 persen [Rp786.302,6 miliar] di 2019 menjadi 2,2 persen [Rp346.027,9 miliar] di 2020,” paparnya.

Angela menyampaikan adanya fakta bahwa pariwisata Indonesia mampu bertahan di masa pandemi Covid-19 dibuktikan dengan kontribusi pariwisata Indonesia di 2020 yang lebih tinggi dibandingkan beberapa negera di dunia.

“Pariwisata Indonesia memberikan kontribusi sebesar 2,2 persen, sedangkan Inggris 1,8 persen, Amerika Serikat 1,7 persen, Australia 1,6 persen, dan Kanada 1,1 persen,” jelasnya.

Data juga menunjukkan bahwa sektor pariwisata lebih cepat pulih setelah pandemi Covid-19 terlihat dari pertumbuhan tenaga kerja pariwisata yang lebih tinggi dari pertumbuhan tenaga kerja nasional sebesar 16,2 persen.

Melalui penyerapan tenaga kerja tersebut berdampak positif terhadap peningkatan daya beli masyarakat dan mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Setidaknya ada tiga bidang usaha pariwisata yang mengalami pemulihan tercepat di 2021, yakni Penyediaan Persewaan Kendaraan yang tumbuh 32,3 persen, Penyedia Jasa Makan Minum tumbuh 8 persen, dan Perdagangan Barang Wisata tumbuh 4,9 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pariwisata wisata destinasi wisata wisatawan wisatawan manca negara DESA WISATA
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top