Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pakar Ungkap Alasan Sagu Masih Jarang Digunakan untuk Subtitusi Gandum

Sagu meurpakan sumber karbohidrat alternatif selain beras dan gandum. Persoalannya masih jarang yang memanfaatkan sagu sebagai substitusi.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 21 Agustus 2022  |  16:13 WIB
Pakar Ungkap Alasan Sagu Masih Jarang Digunakan untuk Subtitusi Gandum
Sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat nonberas. - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Penggunaan sagu sebagai alternatif dari gandum terus dgencarkan demi memenuhi kebutuhan karbohidrat bagi masyarakat, namun masih minim realisasinya.

Pakar Pertanian dari IPB University Bayu Krisnamurthi mengungkapkan meski jadi salah satu sumber alternatif, ada beberapa alasan sumber karbohidrat tersebut masih jarang dimanfaatkan seperti gandum.

“Sagu adalah tanaman berbentuk pohon, dan cara panen sagu adalah dengan ditebang. Panen baru dapat dilakukan setelah pohon berumur 3-4 tahun. Jadi, pertama, proses produksi sagu lebih panjang dari tanaman karbohidrat lain,” katanya, Minggu (21/8/2022).

Membandingkan dengan gandum yang masih tergolong keluarga padi-padian, memiliki masa tanam yang lebih cepat, yakni sekitar 5 bulan untuk dapat panen. Artinya, gandum jauh lebih cepat panen dari sagu.

Selain itu, Bayu menjelaskan bahwa karakter dari tepung sagu memiliki ciri khas tersendiri sehingga tidak sepenuhnya dapat bersubstitusi dengan tepung lain. Umumnya, tepung sagu digunakan sebagai bahan dasar pembuatan makanan khas Maluku dan Papua, yakni Papeda, atau khas Betawi seperti kue rangi.

Lebih lanjut, dalam penggunaan sagu secara masal, Bayu yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Perdagangan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II tersebut melihat masih minim investor yang melirik perkebunan sagu.

“Masih sangat sedikit investor perkebunan sagu. Sebagian besar sagu masih dari sagu rakyat, bahkan sagu alam,” lanjutnya.

Meski demikian, pemerintah terus menggencarkan substitusi sagu salah satunya dengan pembuatan pabrik sagu oleh Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik atau Perum Bulog.

Kepala Divisi Pengadaan Komoditi Perum Bulog Budi Cahyanto mengungkapkan dalam mengantisipasi gejolak dan stabilitas pangan, pihaknya telah berencana membangun pabrik sagu.

“Ke depan juga Perum Bulog ada rencana untuk membangun pabrik sagu, jadi harapannya kebutuhan sagu akan naik, kami tawarkan sebagai pengganti dari gandum ini,” ujarnya dalam FMB9, Jumat (19/8/2022).

Bahkan, rakyat Maluku yang mengonsumsi sagu setiap harinya pun terus melakukan inovasi terhadap beragam olahan dari sagu agar dapat diterima masyarakat seluruh Indonesia.

Pada rangkaian peringatan HUT ke-77 Indonesia, Provinsi Maluku memecahkan rekor Muri dalam menyajikan 520 jenis ilahan masakan dari bahan dasar sagu yang meliputi makanan besar, kue basah, kue kering, mie, hingga puding.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sagu Hutan Sagu pengolahan sagu basah pangan harga pangan gandum harga gandum
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top