Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gandum Mahal Karena Perang Ukraina Rusia, Sagu Bisa Jadi Solusi

Kenaikan harga komoditas global akibat invasi Rusia ke Ukraina membuat harga pangan dalam negeri melonjak. Tetapi, sagu disebut bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan gandum.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 09 Maret 2022  |  09:30 WIB
Sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat nonberas. - Antara
Sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat nonberas. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia disebut dapat memanfaatkan komoditas sagu sebagai pengganti harga pangan yang melonjak dalam negeri sebagai akibat dari invasi Rusia ke Ukraina.

Kenaikan harga komoditas global akibat invasi Rusia ke Ukraina ternyata membuat harga pangan dalam negeri ikut melonjak.

Akibatnya masyarakat terbebani dengan kenaikan harga pangan seperti kedelai, gandum, dan jagung. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia ke produk pangan impor cukup tinggi. Salah satu cara untuk bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor adalah diversifikasi pangan.

Kementerian Pertanian sendiri dalam roadmap diversifikasi pangan 2020-2024, disebutkan terdapat enam komoditas pangan lokal sumber karbohidrat non-beras yang potensial menggantikan nasi, yaitu singkong, talas, sagu, jagung, pisang, dan kentang.

Di antara produk tersebut, salah satu potensi yang belum banyak dilirik adalah sagu. Data Kementerian Pertanian menunjukkan produksi sagu dalam lima tahun terakhir mengalami penurunan.

Pada 2017, misalnya, produksi sagu secara nasional mencapai 432.913 ton; selanjutnya 463.542 ton di 2018; lalu, 359.838 ton di 2019; kemudian, 365.665 ton di 2020; dan 381.065 ton di 2021.

Dari jumlah ini, Riau merupakan provinsi yang paling banyak memproduksi sagu sebesar 261,7 ribu ton pada 2020. Lalu diikuti Papua sebesar 67,9 ribu ton, Maluku sebesar 10,04 ribu ton, dan Kalimantan Selatan sebesar 3,6 ribu ton.

Kementerian Pertanian memperkirakan pada 2021 areal sagu nasional seluas 206.150 hektare, luasnya sedikit bertambah dari tahun lalu yang sebesar 200.518 hektare.

Indonesia disebut memiliki potensi lahan sagu mencapai 5,5 juta hektare. Tetapi pemanfaatannya baru mencapai 5 persen. Dari seluruh wilayah di Indonesia, sebenarnya ada potensi cukup besar untuk pemanfaatan sagu di Kalimantan Barat.

Koodinator Paguyuban Petani Sagu Kalimantan Barat Edy Gunawan menilai betapa potensi sagu di wilayanya masih belum dimaksimalkan.

Padahal menurut Edy, hutan di Kalimantan Barat kaya akan sumber bahan sagu. Tetapi jika merujuk kepada data Kementerian Pertanian ternyata produksi sagunya masih kecil sekitar 2.768 ton per tahun.

“Angka ini bisa saja bukan angka riilnya. Meski penting untuk diperbarui, produk sagu di Kalimantan Barat itu dari sisi kualitas justru jauh lebih unggul dari daerah lainnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (8/3/2022).

Para petani di Kalimantan Barat berharap pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian memberikan perhatian khusus untuk mengembangkan potensi sagu ini.

Selain memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan, pengembangan sagu ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar.

“Dahulu sagu di Kalimantan Barat hanya puluhan ribu saja per batang. Setelah dimanfaatkan, harganya kini meningkat menjadi jutaan per batang. Artinya sagu ini memang berpotensi mendorong perekonomian rakyat,” kata Edy.

Selain menjadi sumber altenatif bahan pangan, limbah sagu juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lainnya.

“Limbah sagu saja bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan arang. Bahkan limbah sagu juga bisa dijadikan sumber alternatif energi bio massa,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gandum sagu Perang Rusia Ukraina
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top