Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi Berisiko Tembus 6 Persen, Pemerintah Diminta Tahan Harga Barang Subsidi

Inflasi berpotensi meningkat jauh lebih tinggi, jika pemerintah menaikkan harga barang-barang bersubsidi.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 18 Agustus 2022  |  19:24 WIB
Inflasi Berisiko Tembus 6 Persen, Pemerintah Diminta Tahan Harga Barang Subsidi
Warga menunjukan aplikasi MyPertamina saat mengisi bahan bakar pertalite di SPBU Pertamina Abdul Muis, Jakarta, Rabu (29/6/2022). ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memperkirakan tingkat inflasi hingga akhir tahun berpotensi mencapai kisaran 5 hingga 6 persen, lebih tinggi dari perkiraan pemerintah yakni 4,8 persen.

Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah menyampaikan perkiraan tersebut disampaikan dengan asumsi pemerintah tidak menaikkan harga barang-barang subsidi.

“Upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah menurut saya hanya bisa menahan [kenaikan harga barang subsidi] agar inflasi tidak mendekati angka 6 persen atau bahkan lebih dari 6,” katanya kepada Bisnis, Kamis (18/8/2022).

Menurutnya, inflasi berpotensi meningkat jauh lebih tinggi, mencapai 8 persen, jika pemerintah menetapkan kenaikan harga barang-barang bersubsidi.

“Kalau pemerintah menaikkan harga barang-barang subsidi seperti menaikkan harga Pertalite, inflasi akan terdorong lebih tinggi di atas 6 persen. Bahkan di atas 8 persen,” kata Piter.

Pada Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2022, Kamis (18/8/2022), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pengendali Inflasi Pusat Airlangga hartarto menyampaikan bahwa tingkat inflasi Indonesia pada tahun ini diperkirakan mencapai kisaran 4 hingga 4,8 persen. .

“Tentunya kami terus berharap beberapa program dan ekstra effort yang dilakukan dan diperkirakan laju inflasi 2022 di kisaran 4 hingga 4,8 persen,” kata dia.

Airlangga menyampaikan di samping harga komoditas global yang tinggi, inflasi yang meningkat tinggi hingga Juli 2022 disebabkan oleh faktor cuaca dan produksi di dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi subsidi bbm pemulihan ekonomi
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top