Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News BisnisIndonesia.id: PDB Indonesia, Krisis Properti China, hingga Potensi Resesi Inggris

Berita tentang lonjakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan potensi resesi negara lain menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 06 Agustus 2022  |  08:52 WIB
Top 5 News BisnisIndonesia.id: PDB Indonesia, Krisis Properti China, hingga Potensi Resesi Inggris
Inggris - Pegipegi

Bisnis.com, JAKARTA —  Secara tahunan, kinerja ekonomi triwulan II/2022 Indonesia sudah lebih tinggi daripada kinerja ekonomi sebelum pandemi. Ke depan, Indonesia perlu mewaspadai dampak kondisi ekonomi di negara-negara yang secara ekonomi memiliki posisi strategis.

Berita tentang lonjakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan potensi resesi negara lain menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id

Berikut ini highlight Bisnisindonesia.id, Sabtu (6/8/2022):

  1. Pertumbuhan Melonjak, Saatnya Indonesia Intip Resesi Negara Lain

Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi tahunan 5,44 persen pada kuartal II/2022. Secara tahunan, kinerja ekonomi triwulan II/2022 ini sudah lebih tinggi daripada kinerja ekonomi sebelum pandemi.

Ke depan kondisi ekonomi global diprediksi masih menantang dengan tingkat inflasi yang tinggi di beberapa negara. Indonesia perlu mewaspadai dampak kondisi ekonomi di negara-negara yang secara ekonomi memiliki posisi strategis.

Terkait perkembangan ekonomi global ke depan, IMF pun telah merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi global. Revisi juga dilakukan Bank Dunia serta Bank Pembangunan Asia.

  1. Menilik Penyebab Krisis Properti China, Indonesia Kena Dampak?

Negeri Tirai Bambu tengah dilanda krisis properti. Sejak tahun lalu, sektor properti di China bertubi-tubi mengalami masalah yang berujung krisis di pasar.

Krisis properti di China terjadi ketika para pembeli rumah yang frustrasi berhenti melakukan pembayaran hipotek pada unit hunian yang belum selesai dibangun. Boikot hipotek sebagai bentuk protes terhadap proyek yang tak kunjung selesai.

Setelah boikot hipotek terjadi, para pengembang pun kewalahan mengelola utang yang menggunung. Krisis properti di China ini tentu berdampak pada perekonomian negara tersebut, sebab sektor properti menyumbang seperempat dari PDB China. Bukan tidak mungkin, dampaknya pun bakal merembet ke Indonesia.

  1. Suku Bunga Naik 50 Basis Poin, Inggris Berada di Gerbang Resesi

Great fire atau kebakaran besar yang melanda London, Inggris, pada 1666 telah menjadi catatan sejarah tak terlupakan. Kini, Inggris terancam kebakaran yang lain: resesi namanya. Kondisi ekonomi yang muram membuat Bank of England, bank sentral Inggris, akhirnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin.

Kenaikan suku bunga tertinggi sejak 1997 terpaksa dipilih Bank of England untuk menjinakkan inflasi di Negeri Ratu Elizabeth tersebut. Dengan kenaikan sebesar 0,5 persen, suku bunga acuan di Inggris berada di level 1,75 persen. Tak hanya itu, BoE juga memperingatkan bahwa resesi sudah di depan mata.

Inggris diperkirakan akan mulai memasuki masa resesi pada kuartal keempat tahun ini. Resesi diprediksi berlangsung hingga tahun depan dan akan menjadi resesi terpanjang sejak krisis keuangan dialami Inggris.

  1. Rangkaian Kereta Cepat Jakarta Bandung Dikirim Ke Tanah Air

Rangkaian kereta atau Electric Multiple Unit (EMU) dan Comprehensive Inspection Train (CIT) proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung (KCJB) mulai dikirim dari China ke Indonesia pada kemarin, Jumat (5/8).

Pengiriman rangkaian EMU pada proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung dari China ke Indonesia memecahkan sejumlah rekor. Rekor tersebut antara lain KCJB ini menjadi proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara.

Selain itu, kereta cepat yang dikirim tersebut merupakan ekspor pertama China ke luar negeri. Artinya, Indonesia menjadi negara pertama yang mengimpor kereta cepat buatan China.

Rangkaian kereta ini diproduksi CRRC Sifang, Qingdao, Provinsi Shandong, China. Ada 11 rangkaian EMU yang diproduksi dan telah selesai pada awal April kemarin. Satu unit CIT atau kereta inspeksi juga sudah rampung diproduksi. Kereta-kereta tersebut baik EMU dan CIT telah menjalani static test dan dynamic test sebelum dikirim ke Tanah Air.

  1. Mengurai Kembali Arah & Prospek Investasi Kripto di Indonesia

Meskipun industri kripto secara global telah mendapat banyak tekanan tahun ini, seperti jatuhnya valuasi, kegagalan Three Arrows Capital, serta konflik geopolitik global seperti Ukraina-Rusia serta China-Taiwan, penetrasi investor aset kripto di Indonesia justru terus meningkat.

Aset kripto boleh dibilang semakin menjamur di Indonesia. Situasi ini juga tidak terlepas dari peran Gustaf Al Ghozali, atau yang dikenal Ghozali Everyday, yang mandadak tenar lewat swafoto dirinya melalui nonfungible token atau NFT yang diperdagangkan dengan aset kripto Ethereum.

Lantaran bisa kaya dalam sekejab, tak ayal banyak masyarakat yang kepo dan ingin ikut-ikut. Apalagi dari generasi milenial yang semakin melek teknologi. Sejak saat itu aset kripto jumbo sampai yang terkecil semakin marak.

Bahkan berdasarkan sebuah riset terbaru dari Gemini, platform perdagangan aset kripto global menyatakan Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan kepemilikan aset kripto tertinggi di dunia. Aset kripto dibandang sebagai aset perlindung kekayaan terhadap inflasi di masa depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Top 5 News Bisnisindonesia.id
Editor : Emanuel B. Caesario

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top