Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Amerika Resesi & Terancam Stagflasi, Ini Risikonya ke Ekonomi RI

Amerika Serikat melaporkan sudah dua kuartal berturut mengalami pertumbuhan ekonomi negatif alias secara teknis sudah resesi.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 31 Juli 2022  |  19:33 WIB
Amerika Resesi & Terancam Stagflasi, Ini Risikonya ke Ekonomi RI
Sebuah truk peti kemas melintas di Terminal JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (21/7/2022). ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia dinilai perlu mewaspadai ancaman stagflasi yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Pada kuartal II/2022, perekonomian AS kembali turun dan mencatatkan pertumbuhan -0,9 persen sehingga resmi mengalami resesi secara teknikal.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyampaikan, resesi yang terjadi di AS yang berbarengan dengan kenaikan inflasi yang relatif tinggi, semakin menguatkan potensi terjadinya stagflasi di negara itu.

“Tentu stagflasi akan mempengaruhi proses pemulihan ekonomi global karena kita tahu AS adalah salah satu pemain ekonomi utama global,” katanya kepada Bisnis, Minggu (31/7/2022).

Yusuf mengatakan, kondisi ini juga akan mempengaruhi kinerja perdagangan Indonesia, yang mana AS merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia.

“Kinerja ekspor Indonesia ke AS menurut saya berpotensi terkoreksi di level yang terbatas dan sepanjang semester kedua nanti akan menjadi salah satu faktor menurunnya surplus neraca dagang,” jelasnya.

Selain itu, Yusuf mengingatkan pelemahan ekonomi AS juga berpotensi melemahkan negara-negara yang bermitra dagang dengan mereka, termasuk China.

“Tentu jika ekonomi China juga mengalami resesi, ini merupakan tantangan bagi pemulihan ekonomi global terutama di tahun ini karena kita tahu bersama kedua negara tersebut adalah dua negara yang menggerakkan perekonomian global saat ini,” kata dia.

Di sisi lain, Yusuf menilai, dari sisi fiskal, pemerintah memiliki keuntungan dengan APBN yang mengalami surplus selama semester I/2022. Kondisi ini dapat digunakan pemerintah untuk mendorong percepatan belanja untuk menangkal dampak resesi dari global, sehingga perekonomian Indonesia bisa berada tetap pada jalur pemulihan ekonomi hingga akhir tahun.

Dia menambahkan, dari sisi moneter, BI masih memiliki amunisi untuk melakukan intervensi, terutama intervensi nilai tukar jika memang resesi ini berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah.

“BI saya kira juga punya pertimbangan untuk tetap melihat kondisi saat ini sebagai kondisi yang selain butuh intervensi moneter tapi di sisi yang lain BI juga mensupport proses pemulihan ekonomi,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi Stagflasi amerika serikat
Editor : Anggara Pernando
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top