Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Cadangan Gas Besar, Aspermigas: Industri Butuh Insentif Pembangunan Kilang

Pemerintah dminta dapat memberikan paket insentif khusus untuk dapat menarik minat investor swasta masuk pada pengembangan infrastruktur LNG di tengah meningkatkan pasokan gas.
Sarana fasilitas Liquid Natural Gas (LNG) milik PT Nusantara Regas yaitu Floating Storage Regasification Unit (FSRU) berada di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Kamis (19/10)./ANTARA-Muhammad Adimaja
Sarana fasilitas Liquid Natural Gas (LNG) milik PT Nusantara Regas yaitu Floating Storage Regasification Unit (FSRU) berada di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Kamis (19/10)./ANTARA-Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal meminta pemerintah untuk berfokus membangun infrastruktur gas mulai dari industri pengilangan hingga jaringan pipa untuk meningkatkan serapan gas domestik di tengah potensi temuan cadangan gas yang besar ke depan.

Moshe menilai serapan gas di dalam negeri relatif kecil untuk mengimbangi pasokan yang berpotensi terus meningkat dari sejumlah eksplorasi gas yang tengah dilakukan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Konsekuensinya, gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) yang tidak dapat ditampung di dalam negeri mesti diekspor dengan nilai keekonomian yang tidak kompetitif di pasar dunia.

“Jadi percuma kita memproduksi besar-besaran kalau kita tidak punya infrastruktur untuk menampung gas-gas ini. Kebutuhannya itu sebenarnya ada tetapi untuk menjembatani antara produksi dan kebutuhan harus ada infrastruktur di tengah,” kata Moshe saat dihubungi, Rabu (13/7/2022).

Moshe mengatakan investasi untuk pengerjaan kilang LNG relatif besar jika dibandingkan dengan infrastruktur kilang minyak. Investasi yang besar itu berasal dari infrastruktur regasifikasi pada LNG yang terbilang mahal untuk proses pengangkutan ke sejumlah daerah.

Dengan demikian, dia berharap pemerintah dapat memberikan paket insentif khusus untuk dapat menarik minat investor swasta masuk pada pengembangan infrastruktur LNG tersebut.

“Memang butuh insentif dari pemerintah bagaimana membantu investor itu untuk membuat proyek gasifikasi ini atau infrastruktur gas antar pulau agar menarik secara keekonomian,” kata dia.

Sebelumnya, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Premier Oil, bagian dari Harbour Energy company, operator blok Andaman II yang terletak 150 kilometer lepas pantai Aceh menemukan cadangan minyak dan gas bumi.

Penemuan tersebut diperoleh setelah Premier Oil menyelesaikan pengeboran sumur eksplorasi Timpan-1 pada kedalaman air 4.245 kaki. Sumur di bor secara vertikal total pada kedalaman 13.818 kaki di bawah laut. Berdasarkan pengujian, sumur mengalirkan gas sebesar 27 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan 1.884 barel kondensat per hari (BOPD).

Premier Oil Andaman Ltd. akan segera melakukan studi evaluasi post drill untuk menentukan langkah eksplorasi selanjutnya dalam usaha mengkomersialisasikan penemuan itu di lepas pantai cekungan Sumatera Utara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper