Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Musim Hujan di China Ternyata Ringankan Dampak Krisis Energi Global, Ini Alasannya

Curah hujan yang tinggi di China menyebabkan utilisasi PLTA naik dan mampu menghasilkan listrik yang lebih besar dari biasanya.
Nabila Dina Ayufajari
Nabila Dina Ayufajari - Bisnis.com 04 Juli 2022  |  14:24 WIB
Musim Hujan di China Ternyata Ringankan Dampak Krisis Energi Global, Ini Alasannya
Ilustrasi bendera nasional China - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Musim hujan di China yang lebih deras dari biasanya ternyata membawa dampak positif bagi krisis energi yang telah melanda dunia sepanjang tahun ini.

Dilansir Bloomberg, meskipun hujan lebat di China selatan berdampak ke krisis keselamatan publik, penutupan sekolah, dan penyebab kematian, namun juga membantu mengurangi penggunaan pendingin ruangan (AC) dan meningkatkan utilisasi pembangkit listrik tenaga air.

Musim hujan di China mengurangi kebutuhan bahan bakar fosil sehingga memungkinkan importir batu bara dan gas terbesar di dunia memangkas pembelian dan memasok banyak ke negara-negara lain yang kekurangan energi.

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) masih menjadi sumber energi bebas karbon terbesar di China, yang berkontribusi sama besarnya dengan gabungan pembangkit tenaga surya, angin, dan nuklir, meskipun pertumbuhannya melambat karena batasan topografi.

Listrik yang dihasilkan PLTA naik 18 persen tahun ini hingga akhir Mei dibandingkan tahun lalu karena hujan memenuhi waduk dan dua proyek besar di sepanjang anak sungai Yangtze meningkatkan produksi. Daya ini setara dengan listrik yang dihasilkan dari 27 juta ton batu bara dari pembangkit termal, berdasarkan data dari Badan Informasi Energi (EIA) Amerika Serikat (AS).

“Daerah yang mengimpor tenaga air dari China barat daya tentu saja dapat mengurangi tekanan dari biaya bahan bakar termal yang tinggi,” kata analis The Lantau Group David Fishman, dilansir dari Bloomberg pada Senin (4/7/2022).

Pada saat yang sama, hujan membantu menjaga suhu tetap dingin di China selatan, saat panas yang hebat pada Mei dan Juni tahun lalu berkontribusi pada kekurangan batu bara yang memaksa pemerintah daerah untuk memutus aliran listrik ke pabrik-pabrik.

Pada Mei tahun ini, wilayah penggerak perekonomian provinsi Guangdong ini mencatat konsumsi listrik turun 15 persen dari tahun sebelumnya sehingga menghemat sekitar 4,6 juta ton batu bara.

Bersamaan dengan pembatasan virus yang ketat di Shanghai dan China utara, hujan telah membantu menekan penggunaan bahan bakar fosil sehingga pembangkit listrik termal mencatat penurunan tahunan 3,5 persen hingga akhir Mei.

Penurunan ini juga turut berkontribusi memotong impor batu bara sebesar 14 persen dan gas alam cair sebesar 20 persen, sama seperti harga internasional yang melonjak setelah Rusia menginvasi Ukraina.

China telah menunjukkan kesediaannya untuk meningkatkan apa pun yang diperlukan untuk menjaga ketahanan energi. Sementara itu, pemerintah menekankan kebijakannya bahwa pabrik tidak akan menghadapi pembatasan yang sama ketika dilanda musim panas dan gugur tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china ekonomi china plta Krisis Energi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top