Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News BisnisIndonesia.id: Kenaikan Harga LPG 3 Kg hingga Lampu Kuning Panen Ekspor

Berita tentang rencana kenaikan harga LPG 3 kg menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id hari ini. Selain itu, ada juga berita tentang ruang pertumbuhan kredit, gebrakan Zulkifli Hasan, investasi hulu migas, dan kinerja ekspor.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 16 Juni 2022  |  09:22 WIB
Top 5 News BisnisIndonesia.id: Kenaikan Harga LPG 3 Kg hingga Lampu Kuning Panen Ekspor
Warga mengantre untuk membeli gas elpiji tiga kilogram bersubsidi yang dijual pada gelaran pasar murah jelang lebaran di Halaman Korem 132 Tadulako di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (26/4/2022). Antara - Mohamad Hamzah

Bisnis, JAKARTA — Kementerian Keuangan berencana akan menyesuaikan harga jual ecerah (HJE) liquefied petroleum gas atau LPG 3 kilogram mendekati harga keekonomian sembari mendorong mekanisme subsidi tertutup mulai tahun depan.

Berita tentang rencana kenaikan harga LPG 3 kg menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id

Berikut ini highlight Bisnisindonesia.id, Kamis (16/6/2022):

 

  1. Rencana Kenaikan Harga LPG 3 Kg Mencuat, Skema Subsidi Disiapkan

Wacana kenaikan harga jual eceran (HJE) liquefied petroleum gas atau LPG 3 kilogram kembali mencuat, sejalan dengan makin melebarnya selisih harga keekonomian bahan bakar subsidi tersebut. Apalagi, mayoritas subsidi gas melon itu juga justru dinikmati oleh masyarakat yang tergolong mampu.

Berdasarkan perhitungan Kementerian Keuangan, perkiraan harga patokan LPG mencapai Rp19.609 per Kg, sedangkan HJE yang berlaku dalam satu dekade terakhir hanya Rp4.250 per Kg. Itu artinya, ada selisih sekitar Rp15.359 per Kg yang harus disubsidi oleh pemerintah.

Selisih HJE yang lebar itu berasal dari asumsi minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) yang dipatok US$100 per barel dengan nilai kurs sebesar Rp14.450 per dolar AS.

Rencananya, Kemenkeu akan menyesuaikan HJE LPG 3 Kg mendekati harga keekonomian sembari mendorong mekanisme subsidi tertutup mulai tahun depan.

  1. Ruang Pertumbuhan Kredit Masih Longgar, Laba Bank Makin Gemuk

Ruang pertumbuhan kredit industri perbankan masih cukup lebar tahun ini setelah hingga April 2022 berhasil tumbuh melampaui target Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Adanya ancaman kenaikan suku bunga global diperkirakan tidak sampai terlalu dalam menahan laju pertumbuhan kredit.

Laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan total nilai pembiayaan yang disalurkan perbankan pada April 2022 mencapai Rp5.981 triliun, tumbuh 9,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu atau secara year-on-year (YoY).

Kondisi ini memang tidak terlepas dari faktor low base effect atau rendahnya nilai pembanding pada periode yang sama tahun lalu, sebab pada April 2021 kinerja kredit tercatat turun 2,28 persen YoY.  Jika dibandingkan dengan target OJK tahun ini sebesar 7,5 persen, realisasi April 2022 ini tentu melampaui ekspektasi.

Kendati demikian, ekonomi menilai pertumbuhan ini belum mencapai puncaknya. Dengan kata lain, pertumbuhan kredit perbankan tahun ini masih bisa tumbuh lebih tinggi lagi, meskipun di tengah bayang-bayang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dan pengetatan moneter global.

  1. Menunggu Gebrakan Zulkifli Hasan Tangani Minyak Goreng

Setelah berjibaku mengendalikan harga minyak goreng beberapa bulan terakhir, Muhammad Lutfi tergelincir dari jabatannya sebagai Menteri Perdagangan. Posisi itu kemudian dipercayakan kepada Zulkifli Hasan.

Presiden Joko Widodo melantik lima pejabat baru dalam Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (15/6/2022). Dua orang dilantik sebagai menteri, dan tiga sosok dipilih untuk mengisi jabatan wakil menteri.

Dari lima jabatan tersebut, posisi Menteri Perdagangan setidaknya mengundang reaksi lebih tajam. Pasalnya dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah secara terus menerus berhadapan dengan masalah minyak goreng. Mulai dari tipisnya pasokan dalam negeri, pelarangan ekspor hingga lonjakan harga di pasaran.

Permasalahan di atas setidaknya diakui oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Dia menyebutkan bahwa reshuffle kabinet dilakukan agar membuat kinerja pemerintah lebih lincah. Tidak lupa dia menerangkan masalah yang sedang dihadapi oleh Negara.

  1. Putar Otak Mempercantik Investasi Hulu Migas

Pemerintah bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas terus memutar otak untuk menyiasati lesunya investasi maupun produksi minyak dan gas bumi di Tanah Air. Sejumlah paket insentif pun disiapkan guna meningkatkan iklim investasi di sektor ini.

Selama ini, iklim investasi yang dinilai kurang menarik untuk berinvestasi ditengarai menjadi penyebab sulitnya investor, terutama perusahaan raksasa untuk masuk ke industri hulu migas. Ditambah lagi dengan tingkat risiko yang sangat tinggi serta biaya investasi yang tidak sedikit, tentunya masuk akal jika investor lebih berhati-hati dalam menanamkan investasinya.

Berkaca dari catatan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, nilai investasi pada sektor hulu migas relatif stagnan selama 5 tahun terakhir. Adapun, realisasi investasi pada sektor hulu migas mencapai US$11 miliar pada 2021. Angka itu masih di bawah target yang ditetapkan sebesar US$12,87 miliar pada tahun ini.

  1. Neraca Perdagangan Tumbuh Melambat, Lampu Kuning Panen Ekspor?

Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei masih mencatatkan surplus. Namun, surplus tersebut menyusut seiring melambatnya kinerja ekspor. Hal itu sesuai dengan perkiraan pengamat. Secara bulanan, tertumbuhan ekspor pada Mei 2022 tercatat anjlok dibandingkan kinerja ekspor April 2022.

Berdasarkan data BPS, beberapa golongan barang HS 2 digit mengalami peningkatan dan penurunan ekspor. Komoditas yang mengalami peningkatan ekspor adalah nikel, tembaga, bahan anyaman nabati, kelompok Minuman, alkohol, dan cuka, serta kelompok korek api, kembang api dan bahan peledak.

Sementara itu komoditas yang mengalami penurunan ekspor adalah timah dan barang daripadanya, Logam mulia dan perhiasan permata, Bahan bakar mineral, kelompok bijih logam, terak, dan abu, serta kelompok lemak dan minyak hewan nabati.

Peningkatan ekspor tertinggi tercatat pada ekspor nikel dan barang daripadanya. Peningkatan ekspor terendah tercatat pada ekspor kelompok korek api, kembang api, dan bahan peledak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Top 5 News Bisnisindonesia.id
Editor : Emanuel B. Caesario

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top