Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

APSyFI: RI Tidak Perlu Impor Bahan Baku Tekstil, Ini Alasannya

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serta dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta menilai Indonesia saat ini tidak perlu mengimpor bahan baku tekstil.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 06 Juni 2022  |  20:44 WIB
APSyFI: RI Tidak Perlu Impor Bahan Baku Tekstil, Ini Alasannya
Sejumlah karyawan tengah memproduksi pakaian jadi di salah satu pabrik produsen dan eksportir garmen di Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/1/2022). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Produsen Serta dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta menilai Indonesia saat ini tidak perlu mengimpor bahan baku tekstil.

Redma mengatakan Indonesia tidak perlu impor bahan baku tekstil, karena kapasitas produksi bahan baku tekstil nasional jauh di atas tingkat konsumsi.

"Total konsumsi TPT [tekstil dan produksi tekstil] nasional, sekitar 2 juta ton. Sementara itu, kapasitas produksi industri tekstil Tanah Air dari hulu ke hilir lebih dari 10 juta ton," kata Redma kepada Bisnis, Senin (6/6/2022).

Lebih spesifik, di industri hulu tekstil Tanah Air terdapat 33 perusahaan yang memproduksi serat poliester, nilon, dan rayon dengan kapasitas produksi 3,31 juta ton.

Di industri antara terdapat 294 industri pemintalan yang memproduksi benang dengan kapasitas produksi 3,97 juta ton serta 1,540 industri skala besar dan 131.000 industri mikro kecil yang menghasilkan produk kain tenun, kain rajut, dyeing/printing/finishing dengan kapasitas produksi 3,13 Juta ton.

Di industri hilir, terdapat 2.995 industri skala menengah besar dan 407 ribu industri mikro kecil yang memproduksi garmnen dengan kapasitas 2,18 juta ton serta 765 perusahaan industri kecil, menengah dan besar yang memproduksi produk tekstil lainnya dengan kapasitas 0,68 juta ton.

Tingkat utilisasi sektor industri tekstil dan pakaian jadi dari hulu ke hilir berkisar antara 40 - 56 persen.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai pemerintah perlu konsisten dalam memberikan berbagai insentif kepada industri tekstil yang mesti diutamakan karena masuk ke dalam kategori industri prioritas.

"Pemerintah sudah punya Industri prioritas dan salah satunya tekstil. Harusnya insentif yang diberikan mengikuti prioritas tersebut. Diperlukan konsistensi kebijakan dari pemerintah," kata Faisal, Senin (6/6/2022).

Mengutip Perpres 74/2022 tentang Kebijakan Industri Nasional (KIN), sektor tekstil Tanah Air masih berhadapan dengan masalah tingginya biaya energi listrik maupun gas untuk industri.

Di sisi lain, konsistensi pemerintah juga diharapkan bisa terlihat dalam dukungan yang diberikan dari sisi perdagangan. Faisal mengatakan pemerintah harus konsisten dalam melakukan penerapan safeguard bahan baku, bahan penolong serta produk tekstil dan pakaian jadi dalam negeri untuk memperkuat harmonisasi rantai pasok.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tekstil Industri Tekstil impor bahan baku
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top