Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Respons The Fed Soal Ramalan Resesi Usai Suku Bunga Naik

The Fed mengingatkan bahwa AS masih punya kans kuat menghindari resesi akibat kenaikan suku bunga secara agresif.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 05 Mei 2022  |  02:29 WIB
Logo bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Minggu (19/12/2021). Bloomberg - Samuel Corum
Logo bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Minggu (19/12/2021). Bloomberg - Samuel Corum

Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur Federal Reserve alias The Fed Jerome Powell mengingatkan publik untuk tidak serta merta memvonis AS sebagai negara penderita resesi tahun depan.

Keputusan The Fed untuk mulai agresif menaikkan suku bunga memang berisiko terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun menurut Powell, kans AS untuk menghindari resesi pada 2023 masih cukup terbuka.

"Kami memiliki peluang bagus untuk melakukan soft atau softfish landing," tutur Powell dalam konferensi pers Kamis (5/5/2022) dini hari waktu Indonesia.

Dia lantas menyinggung kondisi di kalangan rumah tangga dan pelaku bisnis yang disebutnya sedang solid secara finansial. Pasar tenaga kerja juga dinilainya terus menunjukkan pemulihan.

"Tidak terlihat mendekati sebuah penurunan."

Hanya saja, mungkin bukan berarti mudah. Powell mengamini jika usaha untuk berkilah dari resesi tahun depan akan sangat menantang. Apalagi, para analis juga sudah memberikan perigatan dini.

Sebagai konteks, The Fed baru saja mengumumkan langkah mereka untuk menaikkan suku bunga 50 basis poin. Kenaikan tersebut akan membuat kisaran target untuk suku bunga dana federal mencapai 0,75% hingga 1%, dibandingkan kisaran sebelumnya yang berada pada rentang 0,25% hingga 0,5%.

Sejumlah eks pejabat The Fed sempat menyuarakan kekhawatiran terhadap langkah bank sentral tersebut.

"Kemungkinan besar akan tetap terjadi resesi, menimbang intensitas inflasi dan tingkat penurunan pengangguran. Untuk mengembalikan dua hal itu ke titik ekuilibrium, mustahil The Fed mampu mengelola sambil menjaga terjadinya soft landing," ujar eks petinggi regulator perbankan The Fed Randal Quarels dalam podcast Banking with Interest, yang rilis Selasa (3/5/2022).

Pernyataan Quarels tersebut sekaligus mempertegas ucapan Kepala Ekonom Goldman Sachs yang juga eks pimpinan The Fed New York pada 2009-2018 William Dudley.

"Karena sejarah membuktikan bahwa setiap kali mereka [The Fed] berusaha menekan tingkat pengangguran, kita pasti terjebak resesi," kata Dudley.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Suku Bunga Kebijakan The Fed
Editor : Herdanang Ahmad Fauzan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top