Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perumahan di Sejumlah Titik di Jakarta Overvalue, Picu Koreksi Harga

Indonesia Property Watch mengemukakan ada potensi bahwa harga properti di sejumlah titik di Jakarta overvalue sehingga sekarang terkoreksi dalam kondisi siklus yang kurang baik. Namun, harga properti di Indonesia tidak bubble, karena masih terus ada pembelinya.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 01 Mei 2022  |  11:06 WIB
Kepadatan perumahan di Jakarta berlatar belakang properti komersial. - Bloomberg
Kepadatan perumahan di Jakarta berlatar belakang properti komersial. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga properti di beberapa titik di Jakarta boleh jadi selama ini overvalue, sehingga sekarang terkoreksi. Namun, bukan berarti harga properti selama ini termasuk kategori bubble yang bila pecah, nilainya anjlok.

“Kalau dikatakan overvalue itu mungkin saja. Permintaan tinggi, sehingga harganya juga meningkat, Jadi, kalau harganya terlalu tinggi itu mungkin, tetapi tidak bisa disebut bubble,” kata pengamat bisnis properti Ali Tranghanda.

CEO Indonesia Property Watch (IPW) itu mengungkapkan bahwa memang ada orang yang menyamakan istilah overvalue dengan bubble. Namun, dia sendiri memilih untuk membedakan pengertian kedua istilah tersebut.

Dia memberikan contoh overvalue harganya misalkan Rp2 miliar. Hanya dalam rentang 2 tahun harganya melesat naik sampai Rp2,7 miliar atau Rp2,8 miliar, tetapi kenyataannya memang masih ada yang membeli.

“Lantas, tahun depannya lagi siklus bisnis properti sedang tidak bagus, harga itu berpotensi terkoreksi sedikit, tapi bukan bubble, karena bubble-nya nggak sampai pecah, nggak anjlok, jadi itu cukup dikatakan sebagai overvalue,” kata Ali kepada Bisnis.

Dalam kondisi demikian, berikutnya yang terjadi, harganya setelah terkoreksi terjadi keseimbangan baru lagi, tetapi kemudian ada yang membeli. Itu merupakan harga riil. “Jadi, apakah overvalue, kita bisa melihatnya pada saat terjadi koreksi atau tidak, tetapi tidak anjlok yang disebabkan bubble pecah.”

Hal itu berbedea dengan bubble atau sesuatu yang tidak nyata, karena ketika dijual, harganya terlalu tinggi, sehingga tidak ada yang membelinya. Dampak berikutnya, harganya anjlok, misalkan dari Rp30 miliar per unit menjadi Rp10 miliar atau hanya sepertiganya.

Sebelumnya IPW mengungkapkan hasil surveinya yang menunjukkan bahwa harga rumah di Jakarta selama kuartal I 2022 menurun 18,3 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq).

Penurunan itu merupakan yang terbesar kedua di Jabodebek dan Banten yang menjadi wilayah survei IPW. Penurunan harga rumah terbesar di Jabodebek dan Banten pada kuartal I 2022 terjadi di Kota Serang yaitu 19,6 persen.

Menurut survei IPW, penurunan harga rata-rata rumah di kedua kota itu jauh di bawah rata-rata penurunan yang terjadi di Jabodebek dan Banten sebesar 13,2 persen qtq.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti perumahan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top