Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tol Trans Sumatra, Membawa Harapan Hingga Ujung Jalan

Tol Trans Sumatra yang dibangun dan dikelola oleh PT Hutama Karya (persero) terus menunjukkan perannya sebagai nadi penghubung ekonomi dan sosial Pulau Jawa dan Sumatra.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 15 Maret 2022  |  22:39 WIB
Tol Trans Sumatra, Membawa Harapan Hingga Ujung Jalan
Foto udara jalan tol ruas Bakauheni-Terbanggi Besar yang merupakan bagian dari Trans Sumatra, di Lampung. Ruas tol ini kini menjadi nadi ekonomi penting yang menghubungkan Sumatra dan pulau Jawa. - Bisnis / Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Truk bermuatan daun kunyit, jahe, laos hingga kapulaga itu melambat, lalu parkir di salah satu rumah makan tak jauh dari pintu keluar pelabuhan Merak. Zuhri (48 tahun) turun dari kursi kemudi.  

Dari pintu di sisi lain, lelaki paruh baya yang juga supir kedua melangkah cepat. Meski telah menempuh perjalanan lebih dari 22 jam, keduanya tidak terlihat terlalu kelelahan. 

Saat berbincang dengan Bisnis akhir Februari 2022 lalu, pria kelahiran Nias namun beristri orang Solok, Sumatra Barat itu bercerita tentang beberapa perjalanan lintas provinsi terakhir yang mereka tempuh. Salah satunya keputusan menggunakan tol Trans Sumatera Palembang-Lampung. 

“[Dengan tol Trans Sumatra] waktu tempuh jauh lebih cepat. [Kami] berangkat dari Solok kemarin selepas Dzuhur. Sekarang lepas siang sudah sampai Merak. Itupun bawa [mobil] santai,” ujar Zuhri.

Menurutnya sebelum ada tol Trans Sumatera, ia harus menempuh perjalanan Solok-Jakarta selama dua hari dua malam membelah lintas barat. Kadang, karena rute yang berbelok-belok dan jalan relatif kecil, ia bisa menghabiskan waktu tiga hari dua malam karena beragam hambatan yang muncul tiba-tiba.  

Tidak hanya soal hemat tenaga, waktu tempuh yang relatif lebih cepat membuat Zuhri kini bisa mengembangkan bisnisnya. Dulu, sebagai tauke dan pedagang antar pulau, ia hanya membawa tanaman tua seperti  pala, pinang, hingga kayu manis.

Sekarang, karena waktu tempuh yang relatif lebih pendek sejak adanya tol Trans Sumatera, ia mulai berani membawa hasil bumi yang ketahanannya lebih pendek  seperti daun kunyit. Bila masuk musim buah, ia membawa aneka ragam seperti durian, markisa, alpukat atau sawo. Rempah dan buah itu diantar ke langganan pengepul untuk rumah makan Padang serta sejumlah pasar induk di Jakarta. 

“Kalau perjalanan lancar, risiko seperti daun layu lebih kecil atau buah masuk angin [matang atau pecah akibat panas] minim,” ujarnya. 

Bukan hanya bagi pedagang antar pulau, makin lancarnya akses arus barang Sumatera-Jawa juga dirasakan oleh sejumlah petani di Sumatra Barat. Meski jauh dari tanah Jawa kini semakin banyak hasil pertanian yang dibawa para pedagang antar pulau. 

Ani (42 tahun) petani dari Nagari di Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok mengatakan sekarang ia sering didatangi tauke atau pengepul yang ingin memborong bumbu dapur dan rempah untuk dibawa ke Jakarta. Karena sudah ada tauke langganan ia pun berani menggarap tanah kebun untuk ditanam satu jenis tanaman saja seperti tanaman kunyit, lengkuas, dan sereh. 

“Nanti kalau sudah waktu panen, tinggal panggil tauke yang akan membawa ke Jawa. Mereka yang langsung mengurus panen sampai bersih dan ditimbang,” ujar Siswani. 

Lain lagi dengan Roza. Pedagang kain ini rutin melakukan perjalanan ke Tanah Abang untuk membawa model pakaian terbaru. Dengan waktu tempuh lebih singkat dan ongkos terjangkau, perjalanan Jakarta-Solok sedikitnya satu kali sebulan kerap dia lakukan.  Bahkan saat pemesanan meningkat, dia dapat dua kali sebulan berbelanja memenuhi kebutuhan tiga tokonya di pasar Solok.

Besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat dengan hadirnya tol Trans Sumatra membawa harapan banyak pihak agar seluruh wilayah Sumatera bisa tersambung. Saat ini, dari 24 ruas jalan tol yang direncanakan menghubungkan seluruh kota di Sumatra, sudah enam  ruas yang beroperasi. 

Jalan tol utama didesain menghubungkan Lampung hingga Aceh  dari sisi timur Pulau Sumatra. Sedangkan untuk menghubungkan ke sisi barat dibentang sejumlah sirip seperti Pekanbaru-Padang, Palembang-Bengkulu dan Tebing Tinggi-Sibolaga di Sumatra Utara.

Total jalan yang dibangun menjadi 2.837 km. Dari jumlah itu ruas tol utama atau backbone sepanjang 1.913 km dan ruas tol sirip atau feeder 924 Km. 

Ketua Masyarakat Profesional Sumatera Bagian Selatan (Maspro Sumbagsel), Mahatma Gandhi mengatakan dampak pembangunan tol trans sumatera cukup terasa dari kemajuan pembangunan di Sumbagsel cukup fantastis. Hanya saja, masih terdapat tantangan yang perlu dihadapi. 

“Jika konektivitas tol di Sumbagsel telah tersambung, maka kontribusi potensi kekayaan daerah semakin optimal,” katanya dalam seminar hasil kajian Maspro Sumbagsel , Sabtu (12/3/2022). 

Dia mencontohkan tol yang tersambung sudah berdampak signifikan untuk Provinsi Sumsel dan Lampung lewat tol Palembang—Lampung.  Karena itu, bila konektivitas antar kota di Sumatera terwujud, kemajuan bisa lebih dipacu. 

Makin lancarnya arus barang dari Sumatera ke Jawa atau sebaliknya memang menjadi salah satu tujuan dari pembangunan tol trans sumatera.  Presiden Joko Widodo saat meresmikan Binjai – Stabat menyebutkan jalan tol Sumatra didesain untuk menghubungkan sentra- sentra produksi, kawasan pertanian, pariwisata, hingga perkebunan. 

Presiden meyakini, dengan ketersediaan sarana jalan yang baik maka struktur biaya dan harga komoditas di sekitar wilayah tol akan menjadi lebih kompetitif dan tidak kalah dengan produk import. 

“Harga tinggi adalah karena biaya logistik dan transport yang mahal. Sehingga ketika infrastruktur dibangun maka biaya logistik dapat ditekan hingga 75%,” tutur Jokowi saat peresmian. 

Riset terbaru atas Tol Trans Sumatra oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) menunjukkan terjadi efek berganda.  Dalam riset itu disebutkan kehadiran Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) membawa multiplier effect terhadap output dalam perekonomian sebesar Rp768 triliun. 

Output ekonomi dari hadirnya Tol Trans Sumatra setara dengan 1,7 kali dari investasi yang dikucurkan untuk pembangunan. Jumlah ini juga setara 2,2 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Sumatra. Selain itu, kehadiran ruas jalan baru ini juga memberi efek positif dengan penyerapan tenaga kerja setara dengan 2,4 persen tenaga kerja di Sumatra. 

Sebagai bentuk komitmen untuk mempercepat pemerataan pembangunan, Direktur Utama Hutama Karya, Budi Harto mengatakan perusahaan bertekad untuk bisa menghadirkan jalan bebas hambatan yang bisa bermanfaat bagi banyak orang. Dalam beberapa kali kesempatan ia menekankan jalan tol ini dibangun guna mempercepat perpindahan barang dan manusia. 

Pedagang buah asal Bengkulu, Binsar (45) menjual durian di Jl. Raya Gentan, Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah dengan harga Rp60.000,- hingga Rp75.000. Durian yang didatangkan langsung dari Sumatra tersebut diangkut dengan truk melalui jalan tol trans Sumatra dan trans Jawa sehingga masih cukup segar./Espos - Sunaryo Haryo Bayu 

Budi juga menyebutkan, setiap ruas tol yang berhasil diselesaikan merupakan kerja keras banyak pihak termasuk keikhlasan masyarakat untuk melepas tanah yang dimiliki dan diubah menjadi jalan untuk kepentingan umum.

Kami berterima kasih atas dukungan semua stakeholder sehingga pembangunan tol ini dapat berjalan lancar, minim kendala dan sesuai target yang telah ditentukan,” tutur Budi Harto saat peresmian ruas Binjai-Stabat. 

Hutama Karya berharap perkembangan pembangunan jalan tol Trans sumatra bisa selesai sesuai harapan dan memberi kontribusi lebih untuk seluruh masyarakat. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

trans sumatra tol trans sumatra
Editor : Anggara Pernando
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top