Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ngeri! Inflasi AS Sentuh 7,9 Persen, Level Tertinggi Sejak 1982

Inflasi AS bulan Februari ini belum menggambarkan secara penuh lonjakan harga energi akibat perang Rusia-Ukraina.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 10 Maret 2022  |  22:51 WIB
Seorang warga tengah berbelanja kebutuhan makanan di salah satu pusat perbelanjaan Amerika Serikat (AS). Inflasi AS menyentuh level 7,9 persen pada Februari 2022, sekaligus level tertinggi sejak tahun 1982. - Bloomberg
Seorang warga tengah berbelanja kebutuhan makanan di salah satu pusat perbelanjaan Amerika Serikat (AS). Inflasi AS menyentuh level 7,9 persen pada Februari 2022, sekaligus level tertinggi sejak tahun 1982. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Laju inflasi Amerika Serikat kembali melonjak pada bulan Februari, bahkan menyentuh level tertinggi sejak 40 tahun terakhir.

Dilansir Bloomberg, Departemen Tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) naik 7,9 persen secara year-on-year (yoy). Dibandingkan bulan Januari, CPI Februari naik 0,8 persen.

Sementara itu, CPI inti yang tidak termasuk komponen makanan dan energi yang mudah menguap, meningkat 0,5 persen dari bulan sebelumnya dan 6,4 persen yoy. Lonjakan inflasi ini dipicu oleh kenaikan harga bensin, makanan, dan tempat tinggal.

Data menggambarkan sejauh mana inflasi semakin menekan ekonomi, bahkan sebelum perang Rusia Ukraina menimbulkan lonjakan harga komoditas, termasuk harga bensin eceran yang mencapai level tertinggi sepanjang masa.

Sebagian besar ekonom memperkirakan Februari akan menjadi puncak inflasi tahunan. Namun, konflik geopolitik diperkirakan dapat memicul kenaikan inflasi lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.

Kepala ekonom AS di Barclays PLc Michael Gapen mengatakan kecil kemungkinan bahwa inflasi akan mulai melandai dan turun untuk beberapa bulan mendatang.

“Hal ini menjadi panggung di mana kita berada sekarang. Dan kita perlu melihat berapa lama konflik ini dan bagaimana dampak sanksi [terhadap Rusia] terkadap perekonomian,” ungkap Michael, dilansir Bloomberg, Kamis (10/3/2022).

Untuk melawan tekanan harga, Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pekan depan untuk pertama kalinya sejak 2018. Pada saat yang sama, situasi geopolitik menambah ketidakpastian pada siklus kenaikan suku bunga bank sentral hingga tahun mendatang.

Pejabat Fed dapat mengambil sikap yang lebih hawkish jika guncangan harga energi menyebabkan lonjakan inflasi yang bertahan lama, tetapi mereka juga dapat mengambil pendekatan yang lebih hati-hati jika penurunan sentimen konsumen dan penurunan upah riil mulai membebani pertumbuhan saat perang berlanjut.

data inflasi Februari menunjukkan bahwa harga bensin naik 6,6 persen dari bulan sebelumnya dan menyumbang sekitar 30 persen dari inflasi. Lonjakan harga energi belum tercermin secara keseluruhan pada data kali ini karena invasi Rusia dimulai pada pekan terakhir Februari.

Namun, ekonom memperkirakan dampak keseluruhan akan terlihat dalam data CPI bulan Maret mendatang.

Sepanjang bulan ini, harga eceran bensin kelas reguler telah meningkat 19,3 persen menjadi US$4,32 per galon, menurut data American Automobile Association. Sementara itu, harga pangan naik 1 persen dari bulan sebelumnya, lonjakan terbesar sejak April 2020. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as Inflasi cpi consumer price index Perang Rusia Ukraina
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top