Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Inflasi AS April 3,4%, Menurun Pertama Kalinya dalam 6 Bulan

Inflasi AS tercatat sebesar meningkat 3,4% secara tahunan pada April 2024, naik 0,3% dari bulan sebelumnya.
Ilustrasi seorang warga berbelanja di supermarket yang mendorong inflasi Amerika Serikat (AS)./ Bloomberg
Ilustrasi seorang warga berbelanja di supermarket yang mendorong inflasi Amerika Serikat (AS)./ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) atau inflasi AS dilaporkan naik 3,4% secra year-on-year (YoY) pada April 2024.

Menurut data pemerintah yang dirilis Rabu (15/5/2024), CPI yang tidak termasuk biaya makanan dan energi, meningkat 0,3% dari Maret 2024, menurun untuk pertama kalinya dalam enam bulan.

Dalam laporannya, Biro Statistik Tenaga Kerja AS menyatakan, tempat tinggal dan bahan bakar menyumbang lebih dari 70% kenaikan tersebut.

Meskipun angka-angka tersebut mungkin memberikan harapan kepada The Fed bahwa inflasi akan melanjutkan tren penurunannya, para pejabat ingin melihat angka-angka tambahan untuk mendapatkan kepercayaan diri yang mereka perlukan untuk mulai memikirkan pemotongan suku bunga.

Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan pada Selasa (14/5/2024) bahwa bank sentral harus bersabar dan membiarkan kebijakan restriktif melakukan tugasnya, dan beberapa pembuat kebijakan tidak memperkirakan akan menurunkan suku bunga sama sekali pada tahun ini.

"Hal ini membuka pintu bagi potensi penurunan suku bunga di akhir tahun ini. Dibutuhkan beberapa pembacaan lagi yang menunjukkan bahwa inflasi sedang turun agar The Fed dapat mengambil tindakan," kata Kathy Jones, kepala strategi pendapatan tetap Charles Schwab, dikutip dari Bloomberg, Rabu (15/5/2024).

Sementara itu, imbal hasil Treasury anjlok, indeks berjangka S&P 500 naik dan dolar melemah. Para pedagang meningkatkan kemungkinan penurunan suku bunga pada September menjadi sekitar 60%.

Bank sentral mencoba mengendalikan tekanan harga dengan melemahkan permintaan di seluruh perekonomian. Data terpisah menunjukkan penjualan ritel mengalami stagnasi pada April, mengindikasikan tingginya biaya pinjaman dan meningkatnya utang mendorong kehati-hatian yang lebih besar di kalangan konsumen.

Selain tempat tinggal, kenaikan CPI sekali lagi didorong oleh layanan seperti asuransi mobil dan perawatan medis. Harga pakaian mengalami kenaikan terbesar sejak Juni 2020.

Harga tempat tinggal, yang merupakan kategori terbesar dalam jasa, naik 0,4% untuk bulan ketiga. Harga sewa yang setara dengan pemilik meningkat dengan jumlah yang sama.

Tingginya biaya perumahan adalah alasan utama mengapa inflasi tidak hanya di AS, namun juga di banyak negara maju lainnya tidak kunjung surut.

Menurut perhitungan Bloomberg, tidak termasuk perumahan dan energi, harga jasa naik 0,4% dari Maret, laju terlemah tahun ini. Meskipun para gubernur bank sentral telah menekankan pentingnya melihat metrik tersebut ketika menilai lintasan inflasi suatu negara, mereka menghitungnya berdasarkan indeks terpisah.

Angka tersebut, yang dikenal sebagai indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), tidak memberikan bobot yang besar pada sektor shelter dibandingkan dengan CPI. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa PCE cenderung mendekati target The Fed sebesar 2%.

Sebuah laporan menunjukkan harga-harga produsen naik pada April lebih dari yang diproyeksikan, tetapi kategori-kategori utama yang dimasukkan ke dalam PCE tidak terlalu kentara.

Dikombinasikan dengan komponen CPI yang juga menginformasikan penghitungan PCE, para ekonom memperkirakan ukuran tersebut akan lebih lunak ketika data April dirilis akhir bulan ini.

Berbeda dengan jasa, penurunan harga barang yang terus-menerus selama sebagian besar tahun lalu telah memberikan sedikit keringanan kepada konsumen – meskipun para ekonom memperkirakan hal tersebut akan menjadi sumber disinflasi yang kurang dapat diandalkan di masa depan.

Harga barang-barang inti, yang tidak termasuk komoditas pangan dan energi, sedikit turun karena terseret oleh kendaraan bermotor. Adapun, data terpisah menunjukkan pendapatan riil secara tahunan naik pada laju paling lambat dalam hampir satu tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Reni Lestari
Editor : Reni Lestari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper