Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Vaksin Semakin Banyak, Saham Bioteknologi Ditinggalkan

Dengan risiko yang menyelimuti, saham perusahaan biotech tiba-tiba terlihat tidak menarik, kurang menjanjikan, dan jauh lebih menakutkan, terutama dengan proyeksi kenaikan suku bunga.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 15 Februari 2022  |  12:27 WIB
Berbagai jenis vaksin Covid-19 yang digunakan oleh berbagai negara - clinicaltrialsarena.com
Berbagai jenis vaksin Covid-19 yang digunakan oleh berbagai negara - clinicaltrialsarena.com

Bisnis.com, JAKARTA - Saham perusahaan bioteknologi mendapatkan perhatian besar dari para investor pada tahun pertama masa pandemi. Namun, akses vaksin yang semakin mudah, minat terhadap saham ini mulai menyurut.

Dilansir Bloomberg pada Senin (14/2/2022), aliran dana masuk pasar modal di sektor ini berhasil tembus hampir US$5 miliar per bulan pada awal 2020. Saat ini, angka itu kian mengempis hingga rata-rata US$800 juta per bulan, berdasarkan Bloomberg Intelligence.

Penyusutan ini didorong oleh turunnya tensi kekhawatiran pelaku pasar terkait dengan penyebaran virus Corona yang diimbangi menguatnya ekspektasi pada penanganan pandemi.

Nasdaq Biotechnology Index sebagai ukuran paling penting di sektor ini, menunjukkan penurunan hingga 25 persen sejak level tertinggi pada 52 pekan lalu pada 9 Agustus.

SPDR S&P Biotech atau XBI, sebuah reksa dana exchange traded fund (ETF) di bursa yang digunakan untuk melacak kinerja industri, telah anjlok 44 persen selama setahun terakhir.

Dengan risiko yang menyelimuti, saham perusahaan biotech tiba-tiba terlihat tidak menarik, kurang menjanjikan, dan jauh lebih menakutkan, terutama dengan proyeksi kenaikan suku bunga.

"Pasar pada tahun lalu cukup menggila, sejujurnya, karena terlalu panas. Kami melihat sejumlah perusahaan bisa menghimpun dana pada proyek di mana kami melihat mereka dan mengatakan ini tidak masuk akal," kata Chief Executive Officer Ipsen SA David Loew.

Chairman Biogen Inc., Stelios Papadopoulos mengatakan rontoknya saham sejumlah perusahaan bioteknologi saat ini disebabkan valuasi yang terlalu tinggi pada awal pandemi

"Masalahnya pengalaman sains diharga terlalu tinggi dengan jumlah risiko yang sangat signifikan," ungkap Papadopoulos.

Kendati sempat panas pada awal pandemi, bagi investor bioteknologi untuk jangka panjang, tren arus dana masuk saat ini justru menunjukkan bahwa sektor ini masih jauh dari kehancuran.

"Setahun yang lalu, perusahaan [bioteknologi] dihargai sebagai ide yang menarik. Ketika pasar terkoreksi seperti itu, saya pikir kita akan kembali menghargai mereka sebagai bisnis," ungkap Chief Executive Officer Loncar Investments Brad Loncar.

Hal itu berarti dana yang diinvestasikan tidak akan meninggalkan sektor ini, kata analis Piper Sandler Chris Raymond, yang menganalisis aliran uang biotek.

Namun, investor yang tetap bertahan akan lebih memperhatikan perusahaan mana yang ingin mereka dukung. Beberapa menghindar dari perusahaan yang kira-kira masih membutuhkan waktu lama untuk menterjemahkan data ke dalam produk obat.

Pada saat suku bunga acuan dan inflasi yang meningkat, investor lebih memilih aset perusahaan besar yang membuktikan risiko lebih rendah ketimbang pertaruhan pada masa booming, menurut Kepala Pasar Modal Global Locust Walk, bank investasi dan penasihat di sektor ilmu pengetahuan, Brian Coleman.

Pada 2021, perusahaan ventura kesehatan berhasil mengumpulkan pendanaan senilai US$28,3 miliar, dibandingkan dengan US$3,7 miliar pada 2011, menurut Silicon Valley Bank.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bioteknologi Vaksin Covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top