Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News BisnisIndonesia.id: Jurus Pemungkas Krisis Migor hingga Misi EXCL Setelah Akuisisi LINK

Berita tentang kebijakan penanganan persoalan krisis minyak goreng menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 28 Januari 2022  |  13:01 WIB
Sejumlah warga antre untuk membeli minyak goreng kemasan saat operasi pasar minyak goreng murah di Halaman Kantor Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (11/1/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Sejumlah warga antre untuk membeli minyak goreng kemasan saat operasi pasar minyak goreng murah di Halaman Kantor Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (11/1/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan mulai mewajibkan para eksportir CPO dan produk turunannya untuk memasok produk ke pasar dalam negeri melalui mekanisme domestic market obligation (DMO) dengan harga khusus atau domestic price obligation (DPO) per kemarin, Kamis (27/1/2022).

Berita tentang kebijakan penanganan persoalan krisis minyak goreng menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id

Berikut ini highlight Bisnisindonesia.id, Jumat (28/1/2022):

 

  1. Selisik Misi EXCL Setelah Akuisisi LINK

Persaingan lini bisnis layanan internet oleh operator telekomunikasi makin panas seiring dengan diumumkannya kesepakatan perjanjian jual beli (PJB) saham antara XL Axiata dan Link Net.

Melalui PT XL Axiata Tbk. (EXCL), Axiata Group Berhad mengakuisisi 66,03 persen saham PT Link Net Tbk. (LINK) yang dimiliki oleh Asia Link Dewa Pte Ltd. dan PT First Media Tbk, dengan nilai Rp4.800 per lembar saham atau total Rp8,72 triliun.

Rencana pengambilalihan saham tersebut ditargetkan tuntas pada kuartal III/2022, termasuk dalam hal pemenuhan syarat penyelesaian transaksi dan persetujuan dari regulator serta para pemegang saham.

  1. 2022 Jadi Tahun Akselerasi Kinerja Industri Perbankan

Kinerja industri perbankan secara umum diproyeksikan bakal jauh lebih baik tahun ini ketimbang yang berhasil dicapai sepanjang 2021 lalu. Kondisi fundamental industri perbankan nasional yang relatif masih kuat dan potensi peningkatan aktivitas ekonomi menjadi penopangnya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan penyaluran kredit perbankan naik 7 persen hingga 9 persen di tahun ini.

Proyeksi ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pertumbuhan kredit industri perbankan sepanjang 2021 lalu yang sebesar 5,20% year-on-year (YoY) menjadi Rp5.766,60 triliun. Kinerja kredit perbankan bahkan masih negatif atau turun hingga Mei 2021.

  1. Jurus Pemungkas Krisis Migor Bakal Cederai Ekspor CPO

Kinerja ekspor minyak sawit sebagai komoditas andalan nonmigas bakal tercederai kebijakan mandatori pasar domestik atau domestic market obligation yang mulai kemarin, Kamis (27/1). Akan tetapi, risiko tersebut diyakini hanya bersifat temporer.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana menjelaskan kewajiban eksportir memasok produk olahan minyak sawit mentah atau crude palm oil  (CPO) ke pasar dalam negeri seharusnya tidak banyak memengaruhi kinerja ekspor.

Dia mengatakan kebutuhan CPO untuk 5,7 juta kiloliter minyak goreng sejatinya telah terpenuhi selama ini.

  1. Menguji Tuah Perubahan Komposisi Anggota Indeks IDX30

Bursa Efek Indonesia melakukan evaluasi mayor atas indeks IDX30 yang berlaku efektif untuk periode Februari-Juli 2022. Perubahan komposisi konstituen atau daftar emiten anggota indeks ini diyakini bakal menjadikan prospek indeks ini lebih menjanjikan tahun ini.

IDX30 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

Dalam evaluasi teranyar, BEI mengeluarkan nama jagoan industri rokok yaitu GGRM dan HMSP dari daftar saham IDX30. Posisi keduanya digantikan oleh raksasa teknologi nasional yaitu PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) dan juga emiten konstruksi PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT).

  1. Lirak-lirik Strategi Pendanaan Modal Ventura Pelat Merah

Manuver perusahaan-perusahaan modal ventura pelat merah untuk jorjoran mengucurkan pendanaan ke startup teknologi finansial dinilai sudah tepat untuk meminimalisir risiko kerugian investasi.

“Menurut saya, [tren memacu pendanaan ke tekfin] ini bukan karena tidak berani merambah ke sektor lain, tetapi untuk meminimalisir kerugian, termasuk mengantisipasi audit dari Badan Pemeriksa Keuangan,” ujar Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang, baru-baru ini.

Menurutnya, guna memperkecil risiko, perusahaan-perusahaan modal ventura milik BUMN cenderung melakukan pendanaan di seri lanjutan. Walaupun dengan itu, keuntungan yang didapatkan tidak sebesar investasi di tahap awal.

 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Top 5 News Bisnisindonesia.id
Editor : Emanuel B. Caesario

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top