Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China dan AS Jadi Alasan Utama IMF Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Global 2022

Kondisi Amerika Serikat dan China menjadi alasan kuat IMF memangkas proyeksi global pada tahun ini. Di AS, IMF melihat kemungkinan pengesahan paket fiskal build back better. Sementara itu, penurunan peringkat China mencerminkan berlanjutnya krisis di sektor real estat.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 26 Januari 2022  |  09:55 WIB
Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath. Bloomberg.
Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath. Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) mengumumkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 4,4 persen pada 2022, turun 0,5 persen dari sebelumnya karena penurunan ekonomi di Amerika Serikat dan China.

"Dalam kasus Amerika Serikat, ini karena lebih kecilnya kemungkinan pengesahan paket fiskal build back better dan penarikan lebih awal akomodasi moneter yang luar biasa dan gangguan pasokan yang berkelanjutan," kata Wakil Direktur Pelaksana Pertama IMF Gita Gopinath dalam pemaparan virtual terkait dengan World Economic Outlook pada Selasa (25/1/2022) waktu Washington, D.C.

Sementara itu, penurunan peringkat China mencerminkan berlanjutnya krisis di sektor real estat dan pemulihan konsumsi swasta yang melemah dari perkiraan sebelumnya.

Kendati demikian, IMF meyakini tingkat suplai dan permintaan akan membaik pada tahun ini. Harga energi dan makanan akan tumbuh moderat pada 2022. Dengan asumsi ekspektasi inflasi tetap terjaga, maka inflasi diperkirakan akan mereda pada 2023.

Gopinath mengungkapkan bahwa perkiraan kenaikan harga baik di negara berkembang dan negara berkembang yang lebih maju akan bertahan lebih lama.

"Seiring dengan pengetatan kebijakan moneter yang lebih luas tahun ini, ekonomi perlu beradaptasi dengan lingkungan global dengan suku bunga yang lebih tinggi," ujar Gopinath.

Dia memperingatan bahwa pasar negara berkembang dengan pinjaman mata uang asing yang besar dan kebutuhan pembiayaan dari luar negeri harus bersiap untuk potensi turbulensi di pasar keuangan dengan memperpanjang jatuh tempo utang.

Dalam laporan IMF tersebut juga disebutkan bahwa pertumbuhan global akan melambat pada 2023 menjadi 3,8 persen.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat imf
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top