Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kandasnya Bisnis Sang ‘Dewa Judi’ Lim Kok Thay

‘Dewa Judi’ Lim Kok Thay yang diketahui memiliki bisnis kapal pesiar Genting Hong Kong Ltd., harus gigit jari. Bisnisnya akan segera dilikuidasi.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 24 Januari 2022  |  11:36 WIB
CEO Genting Hong Kong Lim Kok Thay -  Bloomberg
CEO Genting Hong Kong Lim Kok Thay - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Gelombang pandemi Covid-19 yang menghempas seluruh sektor bisnis pariwisata. Tak terkecuali bisnis kapal pesiar.

‘Dewa Judi’ Lim Kok Thay yang diketahui memiliki bisnis kapal pesiar Genting Hong Kong Ltd., lini usaha yang digadang mampu mengimbangi bisnis kasino, harus menelan kenyataan pahit. Diversifikasi bisnisnya gagal di tengah pandemi.

Konglomerat China-Malaysia ini memulai bisnis kapal pesiar dan kapal judi pada 1990-an di Hong Kong. Awalnya, upaya diversifikasi dari bisnis kasino ini cukup membuahkan hasil yang maksimal. Putra dari Lim Goh Tong ini berhasil memperluas bisnis Genting Hong Kong Ltd. ke jalur pelayaran, termasuk membuka rute baru dan menambah serangkaian galangan kapal di Jerman.

Namun kini, perusahaan tersebut di ambang likuidasi. Pada pekan lalu, Genting Hong Kong mengajukan petisi untuk mengakhiri bisnisnya setelah porak poranda akibat diterjang gelombang pandemi Covid-19.

Menilik ke belakang, Kok Thay mendirikan perusahaan cikal bakal Genting Hong Kong pada 1993, dengan membeli feri dari perusahaan pelayaran yang bangkrut untuk mengoperasikannya di bawah merek Star Cruises.

Kapal pertamanya semuanya bekas. Baru pascakrisis moneter di pengujung 1990-an perusahaan berani melakukan ekspansi dengan membeli armada baru.

Selama bertahun-tahun, Genting Hong Kong memperluas bisnisnya di luar Star Cruises, sebagian dengan mengakuisisi jalur pelayaran lainnya.

Termasuk di dalamnya membeli merek Crystal Cruises di Amerika Serikat (AS) dan mendirikan Dream Cruises kelas atas di Asia. Perusahaan juga membeli beberapa galangan kapal di Jerman sejak 2015 dalam rangka membangun armada secara mandiri.

Seperti sektor usaha lain, bisnis kapal Kok Thay luluh lantah diterpa pandemi Covid-19. Akibatnya, perusahaan pelayaran menghentikan operasinya, dan mencatatkan kerugian dengan rekor tertinggi yakni US$1,7 miliar pada Mei tahun lalu.

Kemudian pada awal bulan ini, anak perusahaan perakit kapal yang sepenuhnya dimiliki oleh MV Werften, mengajukan kebangkrutan di pengadilan lokal Jerman.

Kondisi ini diperparah setelah pada pekan lalu Genting Hong Kong yang 76 persen sahamnya dikuasai oleh Kok Thay mengajukan petisi di Mahkamah Agung Bermuda untuk menghentikan operasional perusahaan dan menunjuk likuidator.

Dalam dokumen yang tengah diajukan tersebut, dituliskan bahwa kas perusahaan akan ludes pada akhir bulan ini dan sama sekali tidak memiliki akses ke pendanaan untuk melakukan penyelamatan.

Nasib sial tak kunjung beranjak, yang ditandai dengan jebloknya kinerja saham perusahaan tersebut hingga lebih dari 60 persen sejak November tahun lalu hingga sesaat sebelum dihentikan pada 18 Januari tahun ini.

Dalam keterangan tertulis yang disampaikan kepada Otoritas Pasar Modal Hong Kong, perseroan terus melakukan berbagai upaya yang wajar serta bernegosiasi dengan kreditur dan pihak terkait lainnya dalam menangani krisis.

Perusahaan juga masih membuka pemesanan melalui situs resmi Genting Hong Kong dengan tujuan ke berbagai kawasan yang berangkat dari Hong Kong dan Singapura.

“Pelayaran Dream Cruises yang sudah dijadwalkan akan dilanjutkan,” tulis pernyataan resmi perusahaan kepada Bursa Hong Kong, dilansir Bloomberg, Minggu (23/1).

Kesulitan Genting Hong Kong menandai gagalnya upaya manajemen perusahaan dalam menjaankan bisnis yang hanya mengandalkan pasar Asia. Pasalnya, dua pasar utama di kawasan ini, yakni China dan Hong Kong, masih menutup akses wilayah guna mengejar strategi Zero Covid.

Sebaliknya, perusahaan mengabaikan rute-rute menuju AS, Benua Amerika, dan Eropa yang saat ini telah membuka akses wilayah. Tak pelak, jalan menuju kebangkrutan kian mulus.

Di tengah krisis ini, Lim mengajukan pengunduran diri dari posisi CEO Genting Hong Kong dan posisinya digantikan oleh Au Fook Yew. 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bangkrut kapal pesiar judi

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top