Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengamat Usul Larangan Ekspor Mineral Mentah dan Kewajiban Hilirisasi

Ekspor mineral mentah selama ini telah menyumbang devisa bagi negara, tetapi hanya memiliki nilai tambah yang rendah.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 23 Januari 2022  |  20:20 WIB
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang Tbk., di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018).  - JIBI/Nurul Hidayat
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang Tbk., di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Peningkatan nilai tambah hasil tambang mineral melalui program hilirisasi dinilai masih memerlukan perhatian lebih. Pasalnya, kapasitas hilirisasi yang masih rendah di dalam negeri membuat peningkatan nilai tambah menjadi kurang optimal.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi berpendapat bahwa ekspor mineral mentah selama ini telah menyumbang devisa bagi negara. Kendati demikian, ekspor mineral mentah hanya memiliki nilai tambah yang rendah.

Oleh karena itu, pelarangan ekspor mineral mentah dan kewajiban hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah bagi ekspor komoditas.

"Namun akselerasi masih lambat dan volumenya masih rendah. Masalahnya, kapasitas hilirisasi belum mencapai kapasitas optimal," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (23/1/2022).

Fahmy menjelaskan, nikel merupakan salah satu komoditas mineral yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, namun masih belum optimal dikembangkan.

Padahal, Fahmy menilai hilirisasi timah, nikel, tembaga, perak dan emas diharapkan dapat menaikan nilai tambah yang memberikan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia.

"Kebijakan pemerintah harus mendorong dan memfasilitasi investasi hilirisasi dengan memberikan insentif fiskal dan kemudahan investasi," ungkapnya.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan secara prinsip teknis dan bisnis peningkatan nilai tambah atau hilirisasi dengan sendirinya akan meningkatkan nilai ekspor, karena dengan adanya pengolahan maka harga jual menjadi lebih tinggi sehingga secara total nilai penjualan pasti akan meningkat.

Menurut dia, peluang dan tantangan peningkatan nilai tambah terletak pada dinamika dalam negeri dan luar negeri. Kebutuhan dalam negeri yg meningkat akan menjadi tantangan tersendiri. Sementara itu, dari luar negeri, kebijakan dagang umumnya yang menjadi tantangan.

"Saya kira tujuannya positif, namun perlu dipersiapkan industri pengguna dalam negeri untuk dapat menyerap. Termasuk dalam tingkatan harga yang wajar," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (23/1/2022).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi mineral ekspor mineral
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top