Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tak Efektif Stabilkan Harga, Pemerintah Diminta Tinjau Impor Daging Kerbau India

Pelaku usaha meminta pemerintah meninjau kembali kebijakan importasi daging kerbau beku India karena tidak efektif menciptakan stabilisasi harga.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 13 Januari 2022  |  13:24 WIB
Tak Efektif Stabilkan Harga, Pemerintah Diminta Tinjau Impor Daging Kerbau India
Daging kerbau beku yang dijual Bulog. - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha penggemukan sapi meminta pemerintah meninjau kembali kebijakan importasi daging kerbau beku India atau Indian buffalo meat (IBM).

Impor daging beku asal India dinilai tidak efektif dalam menciptakan stabilitas harga di pasar. Kebijakan impor daging beku asal India sendiri bergulir agar bisa mendorong harga menjadi Rp80.000 per kg di pasaran.

Ketua Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong (Gapuspindo) Didiek Purwanto mencatat harga daging kerbau/sapi di pasaran justru stabil di atas Rp100.000 per kilogram (kg) dalam tiga tahun terakhir.

"Kalau melihat realisasi impor dan harga eceran di lapangan, BPS mendata dari 2019 sampai 2021 ternyata rata-rata masih di atas Rp105.000 per kilogram. Jadi dari daging beku yang diimpor, secara nasional harga daging tidak pernah bisa Rp80.000 per kilogram dalam tiga tahun itu," kata Didiek dalam diskusi daring, Kamis (13/1/2022).

Rata-rata harga terendah pada 2019 tercatat berada di kisaran Rp107.000 per kg ketika impor daging kerbau mencapai 93.970 ton menurut data Direktorat Jenderal Bea Cukai. Adapun harga rata-rata pada 2020 dan 2021 berkisar di level Rp110.000 sampai Rp115.000 per kg ketika realisasi impor sebesar 76.365 ton dan 73.780 ton per November 2021.

"Jadi daging beku ini dijual berapa di pasar? Apa benar bisa mencapai Rp80.000 per kilogram atau justru dia terangkat naik dan harga daging sapi lokal tertarik turun?" katanya.

Didiek lantas mengusulkan agar kebijakan impor IBM dikembalikan pada tujuan semula, yakni hanya dilakukan dalam keadaan tertentu dan untuk stabilisasi harga ketika terjadi gejolak.

Dia memandang kebijakan untuk mendorong harga ke level Rp80.000 per kg kurang tepat karena artinya harga dari pemasok harus berada di bawah Rp40.000 per kg, sementara harga daging impor cenderung menunjukkan tren kenaikan.

"Kalau memang pasokan cukup dan harga stabil, tidak perlu impor. Kita lihat dalam tiga tahun terakhir harga stabil tidak bergerak [ke Rp80.000 per kg]. Ini menunjukkan tidak ada pengaruhnya," lanjutnya.

Dia juga menyatakan bahwa impor daging beku dari negara yang belum bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) seperti India bertentangan dengan undang-undang tentang peternakan dan putusan Mahkamah Konstitusi No. 129/PUU-XIII/2015). Regulasi menyebutkan bahwa Indonesia hanya bisa melakukan impor produk hewan dari negara atau zona bebas PMK.

"Jika memang ada penugasan, kami harap ada pengawasan yang ketat karena peredaran daging segar," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stabilisasi harga impor daging kerbau
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top