Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kadin Ungkap Proyek Powerhouse Daging Sapi IA-CEPA Tak Optimal

Kesepakatan dagang Indonesia Australia - Comprehensive Economic Partnership Agreement dinilai belum dapat menghasilkan komitmen investasi antar pelaku usaha dua negara itu.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 11 Januari 2022  |  18:05 WIB
Kadin Ungkap Proyek Powerhouse Daging Sapi IA-CEPA Tak Optimal
Ilustrasi sapi bakalan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mengatakan program economic powerhouse untuk daging sapi dalam kemitraan Indonesia Australia - Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) belum berjalan optimal. 

Kesepakatan dagang yang belakangan dituangkan dalam program Red and Cattle Partnership itu dinilai belum dapat menghasilkan komitmen investasi antar pelaku usaha dua negara itu untuk pengembangan rantai nilai pangan atau food value chain di tingkat Asia Tenggara. 

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Kadin Juan Permata Adoe mengatakan pakta dagang itu belum bersifat komprehensif untuk dapat mengikat investasi pengembangan rantai nilai pangan antara Indonesia dan Australia. 

“Belum bisa jalan karena persepsi di dalam program IA-CEPA ini tidak komprehensif, pelaku usaha Australia belum siap karena mindset mereka selama ini ekspor. Sekarang mereka tidak bisa ekspor ke Indonesia karena harga terlalu mahal,” kata Adoe melalui sambungan telepon, Selasa (11/1/2022). 

Adoe mengatakan ekosistem dari pengembangan rantai nilai pangan antara Indonesia dan Australia belum terbangun baik. Misalkan, dia mencontohkan naiknya harga sapi bakalan Australia mengakibatkan pasokan untuk kebutuhan Indonesia tidak dapat terpenuhi. 

Konsekuensinya, pasokan sapi bakalan dari Australia belakangan dipenuhi dari negara produsen lain. Adapun, pakta dagang itu tidak dapat menjamin ketersediaan pasokan sapi bakalan yang dialokasikan ke Indonesia sebagai negara mitra rantai nilai pangan. 

“Harganya tidak memiliki daya saing sehingga tidak berkelanjutan hal itu yang membuat pemanfaatan IA-CEPA tidak bisa berjalan,” kata dia. 

Kendati demikian, dia mengatakan sejumlah pengusaha Indonesia sudah mulai untuk mengimpor sapi bakalan dari Australia tahun ini. Meski, dia menambahkan importir itu sudah lebih dahulu memiliki perusahaan di Australia. 

Menurut dia, sekitar 10 perusahaan dalam negeri kembali aktif mengimpor sapi bakalan untuk pengembangan rantai nilai pangan dari Australia. Investasi yang dikeluarkan untuk pengembangan rantai nilai pangan itu ditaksir mencapai Rp500 miliar untuk masing-masing perusahaan.

Dalam laporan tengah tahun Joint State of the Industry (JSOI) 2021 yang dirilis kemitraan, ekspor sapi bakalan Australia ke Indonesia hanya mencapai 229.500 ekor sepanjang semester I/2021. Jumlah ini turun 11 persen dibandingkan dengan periode yang sama setahun sebelumnya.

Ekspor total sapi bakalan Australia diperkirakan melanjutkan penurunan pada tahun ini, yakni di kisaran 9 persen secara tahunan dan 36 persen dibandingkan dengan 2019. Turunnya impor ini tak lepas dari pemulihan populasi sapi Australia yang masih berlanjut dan diikuti dengan harga yang relatif masih tinggi. Laporan JSOI menunjukkan harga sapi hidup yang dikirim dari Darwin mencapai level tertinggi AU$4,30 per kilogram.

Harga yang tinggi membuat pelaku usaha penggemukan harus berjuang mempertahankan profitabilitas. Sebagian besar usaha feedlot beroperasi pada kapasitas sekitar 30 persen dan mengalami tekanan keuangan.

Sementara lainnya mempertahankan kapasitas sebesar 60 persen atau lebih tinggi dan melaporkan tingkat profitabilitas yang sedang dengan cara melakukan efisiensi operasional serta dengan melakukan jual beli ternak secara cermat. 

Co-Chair Partnership Australia Chris Tinning memperkirakan harga sapi akan mulai membaik pada paruh kedua 2022. 

“Curah hujan yang baik di Australia tahun ini membantu produsen Australia untuk meningkatkan kembali populasi sapi dan mempertahankan  stok sapi mereka. Harga ekspor sapi hidup yang tinggi saat ini seharusnya bisa turun pada paruh kedua tahun 2022, dan bisa meredakan tekanan keuangan yang dialami usaha feedlot dan RPH di Australia dan Indonesia,” kata Tinning. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor daging sapi ia-cepa
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top