Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News BisnisIndonesia.id: Upaya Membangkitkan Kinerja Manufaktur hingga Prospek Pasar Obligasi 2022

Berita tentang upaya membangkitkan industri manufaktur sepanjang 2022 menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 08 Januari 2022  |  11:53 WIB
Dalam upaya menjaga aktivitas sektor manufaktur makanan dan minuman, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang melakukan kunjungan kerja ke pabrik PT Mayora Indah Tbk di Jl Jayanti 1 di Balaraja, Tangerang, Banten (18/9/2020).  - Kemenperin
Dalam upaya menjaga aktivitas sektor manufaktur makanan dan minuman, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang melakukan kunjungan kerja ke pabrik PT Mayora Indah Tbk di Jl Jayanti 1 di Balaraja, Tangerang, Banten (18/9/2020). - Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA — Industri manufaktur telah dibekali pengalaman selama kurang lebih 2 tahun menghadapi pandemi. Hal itu diharapkan menumbuhkan optimisme untuk pertumbuhan pada tahun ini.

Berita tentang upaya membangkitkan industri manufaktur sepanjang 2022 menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id

Berikut ini highlight Bisnisindonesia.id, Sabtu (8/1/2022):

 

  1. Tertekan Inflasi, Kinerja Pasar Obligasi 2022 Moderat

PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menilai pasar obligasi Indonesia pada 2022 akan bergerak moderat karena tekanan inflasi yang terjadi di Amerika Serikat (AS) maupun global.

Konsensus ekonom Bloomberg memperkirakan level inflasi AS 2022 akan meningkat ke level 4,4 persen, sedangkan inflasi global berada 3,9 persen. Adapun potensi tingginya inflasi di AS memicu penyesuaian kebijakan moneter Bank Sentral yang lebih cepat di beberapa negara maju.

Pasalnya, level inflasi AS yang melonjak sangat tinggi mendorong The Fed mempercepat laju tapering-nya sehingga menimbulkan spekulasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) hingga tiga kali pada tahun ini.

Jumlah kenaikan tersebut sejalan dengan proyeksi para anggota pertemuan Federal Reserve (FOMC) yakni FFR akan berada di level 0,75 persen sampai 1 persen pada 2022.

Selain itu, PHEI melihat tekanan inflasi diperkirakan berasal dari dalam negeri seiring dengan pemulihan ekonomi yang tercermin dari peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen.


  1. 2028, Pasar Baja Galvanis Asia Tenggara Capai US$24,21 Miliar

Pemulihan ekonomi seiring dengan melandainya pandemi Covid-19 diprediksi mengangkat pasar baja galvanis di Asia Tenggara hingga mencapai US$24,21 miliar pada 2028.

Baja galvanis adalah baja yang dilapisi dengan lapisan pelindung seng untuk mencegah karat dan meningkatkan daya tahan struktur baja.

Pasar baja galvanis Asia Tenggara diprediksi tumbuh pada CAGR (compound annual growth rate) sebesar 13% dari 2022 hingga mencapai US$24,21 miliar pada 2028, menurut laporan riset pasar “Pasar Baja Galvanis Asia Tenggara berdasarkan Jenis Produk”.

Menurut penelitian Meticulous Market Research Pvt Ltd yang dilansir Global Newswire, berdasarkan volume, pasar ini diperkirakan tumbuh pada CAGR 12,4% dari 2021 menjadi 25,89 juta ton pada 2028.

Faktor utama yang mendorong pasar baja galvanis Asia Tenggara adalah peningkatan investasi infrastruktur dan peningkatan produk domestik bruto (PDB) negara-negara di wilayah tersebut.

Selain itu, urbanisasi yang cepat di kawasan, pertumbuhan pasar otomotif, dan pembentukan komunitas ekonomi Asean memberikan peluang pertumbuhan yang menarik bagi para pemain yang beroperasi di pasar ini.


  1. Pantang Terlena Membangkitkan Manufaktur pada 2022

Laju pemulihan industri manufaktur yang bergulir sepanjang 2021 diyakini berlanjut pada 2022. Walakin, asa menuju pemulihan penuh pada tahun ini juga tidak bisa dilepaskan dari berbagai rintangan.

Optimisme itu didorong oleh keyakinan pengusaha terhadap penanganan pandemi yang makin kondusif.

Kementerian Perindustrian menargetkan pertumbuhan industri manufaktur pada kisaran 4,5 persen hingga 5 persen sepanjang 2022, dengan ekspansi pada 2021 diperkirakan sekitar 4 persen hingga 4,5 persen.

Selain itu, nilai ekspor pada tahun ini juga ditarget naik menjadi US$178 miliar-US$185 miliar dari perkiraan 2021 sebesar US$170 miliar-US$175 miliar.

Adapun, nilai investasi juga diharapkan naik dari US$280 miliar-US$290 miliar pada 2021 menjadi US$300 miliar-US$310 miliar.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri manufaktur telah dibekali pengalaman selama kurang lebih 2 tahun menghadapi pandemi. Hal itu diharapkan menumbuhkan optimisme untuk pertumbuhan pada tahun ini.


  1. Isu Ketimpangan Cold Chain Iringi Vaksinasi Booster di Indonesia

Pelaku industri farmasi nasional belum menemukan solusi menjembatani defisit rantai dingin atau cold chain untuk mendukung distribusi vaksin Covid-19 dosis ketiga atau booster pada tahun ini.

Menurut pengakuan Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi, perusahaan-perusahaan swasta belum menyiapkan infrastruktur cold chain lantaran menyita investasi yang relatif besar bagi industri farmasi dalam negeri yang bakal terlibat dalam program vaksinasi Covid-19 dosis ketiga nanti.

Sekretaris Jenderal GP Farmasi Andreas Bayu Aji mengatakan asosiasinya juga belum diundang oleh Kementerian Kesehatan untuk membahas rencana pelibatan swasta dalam program vaksinasi booster tersebut.

Aji meminta pemerintah segera memberikan peraturan penjelasan terkait dengan program vaksinasi booster yang melibatkan swasta itu. Harapannya, industri farmasi dapat menyiapkan sejumlah infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung program tersebut.

  1. Bersiap! Ponsel 5G Bakal Makin Merajai Pasar Gawai 2022

Penjualan ponsel pintar berspesifikasi 5G pada tahun ini diprediksi mencapai puncaknya pada kuartal II/2022, dengan pertumbuhan hingga 70 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI) Ina Hutasoit mengatakan lonjakan penjualan ponsel 5G di pasar ritel terjadi bersamaan dengan makin intensifnya komitmen operator telekomunikasi untuk memperluas dan meratakan penggelaran teknologi jaringan generasi kelima.

APSI juga memperkirakan beberapa ponsel 5G yang mendukung N40 atau 5G di pita frekuensi 2,3 GHz akan makin banyak.  Pita frekuensi 2,3 GHz merupakan salah satu pita frekuensi yang digunakan untuk 5G.

Selain 2,3 GHz, operator seluler juga menggelar 5G di pita 1,8 GHz dan 2,1 GHz secara dinamis atau bersamaan dengan 4G.

Penjualan ponsel 4G juga masih akan tumbuh pada 2022. Masih banyak wilayah Indonesia yang belum tersedia jaringan 5G. Penurunan penjualan ponsel pada 2022 akan terjadi untuk ponsel yang hanya berteknologi 2G.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Top 5 News Bisnisindonesia.id

Sumber : BisnisIndonesia.id

Editor : Emanuel B. Caesario

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top