Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Barang Konsumsi Naik, Ekspansi Ritel Bisa Terbatas

Ekspansi gerai ritel modern pada tahun ini diperkirakan tetap terbatas terkena imbas dari situasi ekonomi yang masih diwarnai ketidakpastian. Risiko kenaikan harga barang konsumsi dan perbaikan daya beli yang belum merata bakal jadi tantangan peritel.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 04 Januari 2022  |  18:03 WIB
Warga berbelanja di salah satu pusat perbelanjan modern di Tangerang Selatan, Banten, Kamis (27/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Warga berbelanja di salah satu pusat perbelanjan modern di Tangerang Selatan, Banten, Kamis (27/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Ekspansi gerai ritel modern pada tahun ini diperkirakan tetap terbatas terkena imbas dari situasi ekonomi yang masih diwarnai ketidakpastian. Risiko kenaikan harga barang konsumsi dan perbaikan daya beli yang belum merata bakal jadi tantangan peritel.

“Ritel yang menjual produk dengan komponen impor besar relatif lebih sensitif, mau tidak mau mereka harus meneruskan kenaikan biaya produksi dan logistik ke konsumen. Kalau tidak, bisnis dalam posisi yang dilematis, sedangkan ada ancaman kenaikan tarif listrik dan kenaikan konsumsi rumah tangga belum merata,” kata Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, Selasa (4/1/2022).

Bhima tidak memungkiri jika pelonggaran mobilitas pada 2021 banyak mengerek kinerja ritel modern. Namun, dia melihat pemulihan ritel modern belum cukup solid untuk mendukung ekspansi gerai yang lebih agresif pada 2022.

Dia berpendapat, ritel modern yang berlokasi di pusat perbelanjaan masih menghadapi tekanan karena mobilitas yang belum pulih 100 persen. Ritel stand alone yang berlokasi di dekat pemukiman penduduk seperti minimarket, lanjut Bhima, punya peluang kinerja yang lebih baik.

“Selain mempertimbangkan kesiapan konsumen, kenaikan PPN, lokasi juga akan menjadi faktor yang signifikan. Ekspansi di kawasan pariwisata mungkin terbatas, termasuk di wilayah perkantoran,” katanya.

Bhima juga mengatakan bahwa perusahaan ritel akan mempertimbangkan rasio ekspansi di Pulau Jawa dan luar Jawa.

Dia menilai, sejumlah wilayah di luar Jawa memiliki penduduk dengan daya beli yang masih terjaga, seperti di Kalimantan dan Sumatra sebagai imbas dari harga komoditas yang membaik.

Sebagaimana diketahui, dua wilayah tersebut menjadi sejumlah lokasi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara terbesar di Indonesia.

“Pada tahun ini ada banyak variabel yang memengaruhi ekspansi, dan kemungkinan tidak akan seagresif sebagaimana direncanakan. Namun, ada peluang di ritel-ritel dengan segmen produk kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Mengutip laporan IHS Markit, masalah lonjakan harga bahan baku masih memberi tekanan kepada industri di Tanah Air, meski PMI manufaktur melanjutkan tren ekspansi di level 53,5 pada Desember 2021.

IHS Markit menyebutkan bahwa kenaikan biaya input dan output masih dirasakan para produsen dengan inflasi harga input mencapai level tertinggi dalam 8 tahun terakhir.

Para responden juga menyebutkan bahwa kenaikan biaya terjadi pada semua bahan baku dan ongkos logistik. Situasi tersebut membuat para pelaku usaha memutuskan untuk meneruskan harga ke konsumen.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel harga barang
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top