Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Listrik Meroket, Eropa Bakal Terapkan Pemangkasan Pajak

Inggris tengah berada di bawah tekanan untuk bergabung dengan Eropa untuk mengkaji pemangkasan pajak di tengah krisis harga listrik.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 03 Januari 2022  |  16:09 WIB
Lanskap kota Berlin, Jerman - Istimewa
Lanskap kota Berlin, Jerman - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah negara Eropa termasuk Jerman dan Inggris menjajaki rencana pemangkasan pajak untuk menghadapi lonjakan harga listrik di Eropa dan meringankan rumah tangga miskin.

Dilansir Bloomberg pada Minggu (2/1/2022), Menteri Keuangan Jerman Christian Lindner mengatakan tengah menyiapkan langkah untuk meringankan pajak hingga 30 miliar euro atau setara dengan US$34 miliar.

"Dalam periode legislatif ini, kami akan meringankan [beban] rakyat dan bisnis skala menengah dengan lebih dari 30 miliar euro," katanya kepada surat kabar Bildam Sonntag.

Langkah-langkah yang direncanakan termasuk kemampuan untuk mengurangi kontribusi asuransi pensiun sepenuhnya dari pembayaran pajak, kata Lindner. Bantuan akan dimasukkan dalam rancangan anggaran tahun depan, tambahnya.

Jerman telah mengalokasikan puluhan miliar euro untuk memberikan bantuan tunai dan pinjaman guna menopang individu dan perusahaan selama pandemi virus Corona.

Sementara itu, Inggris tengah berada di bawah tekanan untuk bergabung dengan Eropa untuk mengkaji pemangkasan pajak di tengah krisis harga listrik.

Perlu diketahui, kenaikan harga energi dapat mengerek pendapatan pajak hingga 180 juta pound sterling atau US$240 juta pada musim dingin kali ini, menurut perusahaan listrik berbasis nuklir Electricite de France SA (EDF).

Angka itu berdasarkan pada harga yang lebih tinggi bagi 15 juta pelanggan pada tarif bawaan dan pajak pertambahan nilai tambahan yang mereka bayar.

Di sisi lain, kelompok perlindungan konsumen tengah menyerukan kepada para menteri di Eropa untuk membatasi kenaikan tagihan listrik. Bank investasi Investec Plc., memperkirakan harga listrik akan naik secara gabungan hingga 18 miliar pound sterling tahun depan.

Kondisi ini diperparah dengan kolapsnya puluhan suplier kecil energi sehingga pelanggan mereka harus dialihkan ke perusahaan lain, termasuk biayanya.

Standar tarif energi atau disebut SVT sudah naik 10 persen pada Oktober 2021 dan akan semakin naik pada April 2022. Akibatnya, rumah tangga miskin menjadi yang paling terimbas. Managing Director untuk pelanggan EDF Philippe Commaret mengatakan setiap 8 pound sterling yang dibelanjakan oleh rumah tangga miskin bakal digunakan untuk membayar listrik.

Untuk itu, dia menyarankan agar pemerintah dapat memotong PPN atas tagihan energi dan memberikan potongan harga untuk 2,2 juta rumah tangga yang berpenghasilan rendah atau para pensiunan. “Kami menyerukan kepada pemerintah juga untuk turun tangan dan mengambil tindakan seperti yang telah dilakukan di tempat lain di seluruh Eropa,” kata Commaret.

"Kami menyerukan kepada pemerintah [Inggris] agar ikut turun tangan dan mengambil langkah seiring dengan yang sudah dilakukan di seluruh Eropa," tandas Commaret.

Hingga saat ini, terdapat 20 dari 27 anggota Uni Eropa yang telah melunak dengan memberikan keringanan kepada konsumen paling rentan dengan cara pemangkasan pajak, menurut Komisi Eropa.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

listrik Pajak eropa

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top