Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kontribusi Bahan Baku Lokal Susu Minim, Pemerintah Intervensi Produksi

Pasokan bahan baku lokal dalam operasional IPS masih minim sehingga pemerintah tengah mengintervensi produksi dengan perbaikan kualitas pakan ternak.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 09 Desember 2021  |  06:14 WIB
Ilustrasi - Bisnis
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah menyiapkan sejumlah inisiasi untuk meningkatkan kontribusi bahan baku susu segar lokal dalam industri pengolahan susu (IPS). Sejauh ini, bahan baku lokal baru menyumbang 22 persen dari total kebutuhan bahan baku IPS.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Edy Sutopo mengatakan sejumlah insentif disiapkan untuk mendorong investasi di hulu maupun di hilir. Salah satunya dengan pemberian tax allowance untuk Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) bagi IPS maupun pembibitan dan budi daya sapi perah.

“Di dalam Peraturan Pemerintah No. 78/2019 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu sudah ada fasilitas tax allowance untuk usaha hulu dan hilir susu,” kata Edy, Rabu (8/12/2021).

Nilai investasi di IPS tercatat naik dalam 3 tahun terakhir, dari Rp10,87 triliun pada 2018 menjadi Rp12,05 triliun pada 2020. Kenaikan investasi ini diikuti dengan bertambahnya kapasitas terpasang IPS dari 4,98 juta ton setara susu segar pada 2018 menjadi 5,52 juta ton setara susu segar pada 2020.

Edy tidak memungkiri bahwa pasokan bahan baku lokal dalam operasional IPS masih minim. Karena itu, pemerintah tengah mengintervensi produksi dengan perbaikan kualitas pakan ternak.

“Kami inisiasi untuk masuk melakukan intervensi di pakan. Kami sedang memikirkan intervensi yang dapat dilakukan oleh Kemenperin melalui penyediaan pakan baik dari sisi peningkatan ketersediaan maupun dari sisi kandungan nutrisinya,” lanjut Edy.

Intervensi dari sisi pakan, lanjutnya, diharapkan bisa meningkatkan produktivitas sapi perah existing dan memicu penambahan populasi sapi oleh peternakan rakyat maupun mega farm.

Edy mengatakan peternak cenderung enggan menambah populasi karena ketidakcukupan pakan hijauan. Keterbatasan pakan hijauan bisa menambah rasio biaya pakan dalam produksi di kisaran 0,5 sampai 0,7.

“Padahal idealnya rasio biaya pakan hijauan hanay 0,25 sampai 0,3,” kata Edy.

Edy mengatakan kerja sama dari kementerian dan lembaga terkait diperlukan untuk mendukung target kenaikan komponen bahan baku lokal di IPS. Kementerian Perindustrian mencatat rencana investasi baru IPS cukup besar ke depannya dan memerlukan jaminan pasokan bahan baku.

Beberapa investasi baru IPS yang tercatat di antaranya adalah dari PT Frisian Flag Indonesia dengan lokasi investasi di DKI Jakarta dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat untuk produk susu cair dan kental manis. Nilai investasi tercatat mencapai 225 juta euro atau setara Rp3,8 triliun dengan rencana operasi pada semester II/2023.

Ada pula investasi dari PT Nestle Indonesia dengan investasi senilai Rp1,9 triliun untuk produk susu cair di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Operasional dari investasi baru ini diperkirakan dimulai pada 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peternak sapi industri susu impor bahan baku
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top