Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terungkap Maskapai Punya Utang ke Angkasa Pura I Rp370 Miliar

Sektor penerbangan sangat terdampak pandemi Covid-19 di mana pandemi ini masih belum dapat diprediksi kapan akan berakhir.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 08 Desember 2021  |  20:05 WIB
Suasana lengang tampak terlihat di terminal keberangkatan Lombok International Airport (LIA) di Praya, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (16/2/2019). - ANTARA/Ahmad Subaidi
Suasana lengang tampak terlihat di terminal keberangkatan Lombok International Airport (LIA) di Praya, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (16/2/2019). - ANTARA/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA – Maskapai penerbangan disebut memiliki utang hingga senilai Rp370 miliar kepada PT Angkasa Pura I (persero) atau AP I.

Direktur Keuangan AP I Andy Bratamihardja mengonfirmasi terdapat sejumlah piutang yang atau utang yang belum dibayar kepada AP I, salah satunya dari maskapai. Porsi piutang maskapai penerbangan sebesar 41 persen dari keseluruhan piutang.

“Per 30 November 2021 ini, piutang kita di posisi Rp900 miliar totalnya. Di mana maskapai penerbangan itu sebesar 41 persen atau sekitar Rp370 miliar," ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (8/12/2021).

Sementara sisanya, Andy menyebut terdapat piutang dari supplier AP I. Salah satunya yakni tenant yang menyewa tempat di bandara. Porsi utang selain dari maskapai menurutnya justru lebih besar.

Selain piutang, AP I pun tengah menyiapkan program restrukturisasi operasional dan finansial perusahaan yang ditargetkan rampung pada Januari 2022 akibat menanggung beban utang yang cukup dalam. Nilainya mencapai Rp28 triliun.

Direktur Utama AP I Faik Fahmi menjelaskan tengah menyiapkan program restrukturisasi operasional dan finansial perusahaan yang diharapkan rampung pada Januari 2022 mendatang sehingga perusahaan kemudian dapat bangkit dalam beberapa waktu ke depan.

Perseroan akan melakukan upaya asset recycling, intensifikasi penagihan utang, pengajuan restitusi pajak, efisiensi operasional seperti layanan bandara berbasis pergerakan, simplifikasi organisasi, penundaan program investasi serta mendorong anak usaha untuk mencari sumber-sumber pendapatan baru (transformasi bisnis).

“Di tengah situasi sulit ini, manajemen telah menyiapkan sejumlah inisiatif strategis dengan melakukan restrukturisasi operasional dan finansial. Total target hasil restrukturisasi akan mencapai tambahan dana Rp3,8 triliun, efisiensi biaya sebesar Rp704 miliar dan perolehan fundraising senilai Rp3,5 triliun,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Faik, untuk mendorong peningkatan pendapatan lainnya, transformasi bisnis usaha yang dilakukan perseroan adalah menjalin kerja sama mitra strategis untuk Bandara Hang Nadim Batam, Bandara Dhoho Kediri, Bandara Lombok Praya. Kemudian pemanfaatan lahan tidak produktif seperti lahan Kelan Bay Bali, dan mengembangkan airport city Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) serta eks Bandara Selaparang Lombok.

Dia optimis dengan program restrukturisasi ini dapat memperkuat profil keuangan perusahaan ke depan. Terutama kemampuan kami untuk memastikan penambahan pendapatan cash in, efisiensi biaya dan upaya fundraising. Faik menjelaskan tengah berupaya keras untuk menangani situasi sulit ini dan berkomitmen untuk dapat survive dan menunaikan kewajiban perusahaan kepada kreditur, mitra, dan vendor secara pasti dan bertahap.

Adanya pandemi Covid-19 membuat kondisi keuangan dan operasional perusahaan mengalami tekanan cukup besar. Pendapatan AP I pada 2019 yang mencapai Rp8,6 triliun anjlok pada 2020, di mana perusahaan hanya meraih pendapatan Rp3,9 triliun dan diprediksi pada 2021, pendapatan juga akan mengalami sedikit penurunan akibat anjloknya jumlah penumpang yang hanya mencapai 25 juta orang.

Dengan situasi pergerakan yang menurun dan adanya tekanan keuangan, AP I harus dihadapkan dengan kewajiban membayar pinjaman sebelumnya yang digunakan untuk investasi pengembangan bandara.

Seperti diketahui, sektor aviasi dan pariwisata merupakan sektor yang sangat terdampak pandemi Covid-19 di mana pandemi ini masih belum dapat diprediksi kapan akan berakhir.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pesawat Covid-19 pandemi corona
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top