Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Peran Strategis Petrokimia untuk Masa Depan, Apa Saja?

PT Pertamina (Persero) tengah menyiapkan strateginya untuk mengkonversi kilang yang mengolah untuk bahan bakar untuk dijadikan pengolahan petrokimia.
Petugas melakukan pemeriksaan dan perekaman data di pabrik butadiene di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), di Cilegon, Banten, Kamis (19/7/2018)./JIBI-Felix Jody Kinarwan
Petugas melakukan pemeriksaan dan perekaman data di pabrik butadiene di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), di Cilegon, Banten, Kamis (19/7/2018)./JIBI-Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Petrokimia dinilai akan berperan strategis di masa depan seiring dengan berkurangnya pemakaian bahan bakar fosil.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan dengan pentingnya peran petrokimia pada masa yang akan datang maka integrasi kilang untuk petrokimia akan menjadi sangat dibutuhkan.

Petrokimia, lanjut dia, akan menjadi tulang punggung untuk kilang-kilang di dalam negeri karena hasil turunan petrokimia yang dihasilkan dari olahan minyak bumi sangat dibutuhkan oleh banyak sektor. 

“Jadi, petrokimia sangat penting dan strategis bagi kilang kita kedepannya," katanya kepada Bisnis, Minggu (28/11/2021).

Mengantisipasi pelemahan bahan bakar minyak di masa depan, PT Pertamina (Persero) tengah menyiapkan strateginya untuk mengkonversi kilang yang mengolah untuk bahan bakar untuk dijadikan pengolahan petrokimia.

Direktur Pengembangan Bisnis PT Kilang Pertamina Internasional Joko Widi Wijayanto mengatakan pengembangan petrokimia akan kucuran dana yang tidak sedikit untuk merealisasikan proyek-proyek yang dicanangkan sampai dengan 2028 mendatang.

"Capex yang terlibat dari industri petrokimia ini berkisar antara US$10 miliar — US$15 miliar sekitar sampai dengan 2028," katanya belum lama ini.

Joko menuturkan pihaknya akan turut melibatkan pihak eksternal untuk bisa menyerapan dana segar untuk modal pengerjaan proyek petrokimia. Menurutnya, pihaknya akan membuka kerja sama dengan mitra luar dengan kriteria khusus seperti memiliki pasar, membawa pendanaan, dan membawa teknologi.

Salah satu kerja sama yang telah diteken untuk pengembangan petrokimia tersebut adalah dengan Mubadala Petroleum dan Indonesia Investment Authority (INA) yang merupakan hasil dari rangkaian kunjungan ke Abu Dhabi beberapa waktu lalu. Ke depannya, pihaknya akan menggelar road show untuk mendapatkan investor-investor baru.

"Road show awal tahun depan," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama Kilang Pertamina Internasional Djoko Priyono mengatakan permintaan untuk produk petrokimia kedepannya akan terus meningkat. Dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, produk petrokimia diproyeksikan meningkat sebesar 5 persen tiap tahunnya.

Dia menuturkan, permintaan petrokimia seperti polypropylene (PP), polyethylene (PE), dan paraxylene (PX)< serta benzene (Bz) akan meningkat hingga 7,6 juta ton per tahun, sedangkan kapasitas produksi petrokimia saat ini hanya menccapai 1,6 juta ton per tahun.

“Tentunya, kalau nanti terjadi penurunan kebutuhan BBM, kami melakukan pengembangan kilang melalui inisiatif konversi dari BBM ke petrokimia dan farmasi," ungkapnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Muhammad Ridwan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper