Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jaga Produksi Migas, Pertamina Telah Bor 84 Sumur di Blok Rokan

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK MIgas) mencatat realisasi pengeboran di Blok Rokan terus mengalami kemajuan. Proses tersebut pun disebut masih berjalan sesuai dengan target yang ditetapkan tahun ini.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 09 November 2021  |  20:05 WIB
Fasilitas produksi Blok Rokan, Minas, Riau. - SKK Migas
Fasilitas produksi Blok Rokan, Minas, Riau. - SKK Migas

Bisnis.com, JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK MIgas) mencatat realisasi pengeboran di Blok Rokan terus mengalami kemajuan. Proses tersebut pun disebut masih berjalan sesuai dengan target yang ditetapkan tahun ini.

Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno mengatakan bahwa pihaknya telah mencatat sebanyak 187 sumur telah dibor. Jumlah tersebut terdiri atas 103 sumur dibor oleh PT Chevron Pacific Indonesia dan 84 sumur telah dibor oleh PT Pertamina Hulu Rokan.

Sepanjang tahun ini, Pertamina Hulu Rokan telah berkomitmen untuk mengebor sebanyak 161 sumur untuk menahan laju penurunan produksi di Wilayah Kerja (WK) Rokan.

“Masih sesuai target,” katanya kepada Bisnis, Selasa (9/11/2021).

Direktur Utama Pertamina Hulu Rokan Jaffee A. Suardin mengatakan bahwa intensitas kegiatan operasi Pertamina Hulu Rokan (PHR) di WK Rokan meningkat seiring dengan target 161 sumur tajak sejak alih kelola pada 9 Agustus 2021 lalu hingga akhir tahun ini. Hingga saat ini PHR telah mengoperasikan 16 rig.

Dia menuturkan, jumlah rig akan terus ditambah untuk mendukung upaya pencapaian target jumlah sumur tajak yang ingin dicapai. Tahun depan, target PHR lebih tinggi lagi, yakni 500 sumur tajak.

“WK Rokan merupakan salah satu tulang punggung upaya pencapaian target produksi nasional minyak 1 juta bopd, dan gas 12 miliar kaki kubik per hari pada 2030. Produksi WK Rokan menyumbangkan hampir 25 persen produksi minyak nasional,” ujarnya.

Jaffee menambahkan, 2 bulan setelah pengelolaan WK Rokan, PHR mencatat telah menyumbangkan penerimaan negara melalui penjualan minyak mentah bagian negara sekitar Rp2,1 triliun dan pembayaran pajak sekitar Rp607,5 miliar, termasuk pajak-pajak ke daerah.

PHR telah berdiskusi dan berkoordinasi dengan Pemprov Riau terkait potensi tambahan pajak bagi daerah. Salah satunya dipicu oleh perubahan skema Kontrak Bagi Hasil (production sharing contract), dari sebelumnya menggunakan skema cost recovery menjadi gross split.

“Karena itu, ke depan PHR optimistis dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terkait penerimaan negara dan daerah dari kegiatan hulu migas di WK Rokan,” jelasnya.

Menteri BUMN Erick Thohir mengapresiasi kemampuan Pertamina Hulu Rokan menjawab tantangan dalam mengelola ladang minyak terbesar di Indonesia itu.

Selain menjaga keberhasilan WK Rokan sebagai salah satu penghasil utama minyak nasional, PHR disebut telah memberikan multiplier effect terhadap perekonomian nasional, berupa manfaat secara langsung bagi negara dan daerah.

Dia menuturkan, WK Rokan merupakan penghasil utama minyak nasional dengan kontribusi 25 persen. Blok tersebut juga berperan penting dalam memenuhi target nasional produksi minyak mentah satu juta bopd dan 12 bscfd pada 2030.

“Saya berharap momentum ini terus ditingkatkan, sebab terkait energi bagi bangsa dan negara manfaatnya harus ganda. Selain pemenuhan kebutuhan energi nasional, harus mendukung penciptaan lapangan kerja, peluang bisnis bagi pengusaha lokal, maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina skk migas Blok Rokan
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top