Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berdamai, AS dan UE Cabut Tarif Baja dan Alumunium

Kesepakatan tersebut juga berisi pengaturan untuk mencegah baja China agar tidak diekspor kembali ke AS melalui Uni Eropa menggunakan bebas tarif.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 31 Oktober 2021  |  18:16 WIB
Pabrik baja.  - Bisnis.com
Pabrik baja. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Amerika Serikat dan Uni Eropa (UE) sepakat untuk mengakhiri perang dagang dengan mencabut bea masuk baja dan alumunium yang nilainya mencapai US$10 miliar per tahun.

Kesepakatan ini dicapai pada Sabtu dan diumumkan oleh Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo. "Kami telah mencapai kesepakatan dengan UE yang akan mempertahankan 232 tarif, tetapi dengan pembatasan volume baja dan alumunium UE yang masuk ke bebas tarif AS," ujar Raimondo dikutip dari Bloomberg pada Sabtu (30/10/2021).

Seperti diketahui, kedua pihak telah melewati negosiasi alot yang panjang dan berusaha untuk menyelesaikan kesepakatan sebelum Eropa meningkatkan tarif balasan hingga dua kali lipat pada 1 Desember.

Raimondo mengatakan bahwa negosiasi ini berjalan sukses dan dapat menangkal masalah kelebihan pasokan dari China.

Seorang sumber anonim mengatakan ketentuan tarif sebesar 25 persen ini akan berpengaruh kepada ekspor Uni Eropa yang mencapai lebih dari 3,3 juta ton. Kesepakatan ini juga menandai momen penting dalam perbaikan hubungan perdagangan sekutu lama antara AS dengan Eropa yang retak setelah rezim Donald Trump.

Terkait dampaknya, Raimondo mengatakan kesepakatan tersebut akan membantu mengatasi masalah rantai pasokan yang telah merugikan bisnis AS. “Kami juga mengalami gangguan rantai pasok yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kami berharap perjanjian ini akan meringankan rantai pasok dan menurunkan kenaikan biaya setelah kami mencabut tarif 25 persen dan meningkatkan volume,” jelasnya.

Sejumlah pejabat Amerika Serikat mengatakan kesepakatan baru ini juga meliputi kuota besaran tarif yang memperbolehkan negara-negara untuk mengekspor produk dengan kuantitas tertentu ke negara lain dengan tarif bea yang lebih rendah. Adapun pengapalan yang melebihi ambang batas akan dikenakan tarif yang lebih tinggi.

Sumber tersebut mengatakan keputusan mengenai besaran tarif akan diumumkan nanti, tetapi dia memastikan besaran masih sesuai dengan tingkat historis.

Kesepakatan tersebut juga berisi pengaturan untuk mencegah baja China agar tidak diekspor kembali ke AS melalui Uni Eropa menggunakan bebas tarif.

Amerika Serikat dan UE juga sepakat untuk negosiasi soal peraturan karbon dalam perdagangan baja dan alumunium. Keduanya juga akan membuat insentif yang lebih besar untuk mengurangi intensitas karbon pada pembuatan logam tersebut.

Berdasarkan data perdagangan, AS mengimpor 2,5 juta ton baja dari UE pada tahun lalu dan 3,9 juta ton pada 2019. Besaran tersebut turun dari capaian 2018 dan 2017 yang masing-masing mencapai sekitar 5 juta ton.

"Kesepatan ini, utamanya, untuk menegosiasi pengaturan berbasis karbon pada perdagangan baja dan alumunium dalam menghadapi baik kelebihan produksi dari China dan intensitas karbon pada sektor baja dan alumunium," kata Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan.

Serikat pekerja United Steel merespons positif kesepakatan itu dan mengatakan hal itu akan membantu menjaga industri AS tetap kompetitif. Mereka menilai kesepakatan tersebut menawarkan cara untuk melawan praktik baja predator dari China.

"[Dan] juga mendorong dialog mengenai masalah iklim yang berasal dari negara yang padat karbon daripada di negara-negara seperti Amerika Serikat dan UE,” kata asosiasi tersebut dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, Kepala asosiasi minuman beralkohol sulingan di AS atau Distilled Spirits Council Chris Swonger mengatakan, pencabutan beban tarif pada wiski AS tidak hanya menguntungkan penyuling dan petani AS, tetapi juga mendukung pemulihan bisnis restoran, bar, dan penyulingan UE yang terpukul akibat pandemi.

Kendati demikian, Presiden Dewan Perdagangan Luar Negeri Nasional Jake Colvin mengatakan penggunaan kuota tarif masih menimbulkan ketidakpastian bagi tenaga kerja dan bisnis logam.


Ilustrasi pabrik baja

Menurutnya, kesepakatan tersebut memang akan mengurangi ketegangan antara AS dan Eropa serta membuka kesempatan pembicaraan transatlantik yang lebih produktif.

"Namun, mekanisme perdagangan yang dikelola menggunakan kuota tarif akan melemahkan daya saing, menciptakan pemenang dan pecundang, menambah biaya rantai pasok yang signifikan dan secara tidak proporsional memengaruhi perusahaan kecil dan menengah,” papar Colvin.

Sengketa tarif antara AS dan UE berawal pada 2018 ketika Trump menerapkan bea masuk pada baja dan alumunium dari Eropa, Asia, dan kawasan lainnya yang dianggap menjadi ancaman keamanan nasional.

Uni Eropa kemudian membalas dengan mengenakan tarif terhadap beberapa produk termasuk sepeda motor Harley-Davidson Inc., jeans Levi Strauss & Co., dan wiski bourbon. Dengan kesepakatan pada Sabtu, UE setuju untuk menurunkan tarif pembalasan tersebut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa baja amerika serikat aluminium
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top