Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Siklus Komoditas Tak Bertahan Lama, Industri Besi dan Baja Jadi Tumpuan Baru

Kinerja ekspor Indonesia yang bertumpu pada CPO dan batubara berpotensi dapat beralih pada produk besi dan baja. 
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 16 Oktober 2021  |  08:20 WIB
Baja ringan.  - Sunrise steel
Baja ringan. - Sunrise steel

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) menilai positif rencana Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi untuk mendorong ekspor produk industri besi dan baja dalam negeri. 

Rencananya, produk itu diharapkan dapat menjaga tren positif surplus neraca dagang saat harga komoditas unggulan ekspor seperti minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan batubara kembali normal seiring dengan pulihnya pasokan global. 

“Kita menyambut positif dan mendukung rencana tersebut,” kata Ketua Umum IISIA Silmy Karim melalui pesan tertulis kepada Bisnis, Jumat (15/10/2021). 

Silmy mengatakan baja stainless steel memang merupakan pasar ekspor menjanjikan karena produk yang dihasilkan di dalam negeri masih barang setengah jadi. Dengan demikian, barang itu mesti diekspor untuk produk turunan atau hilir dari stainless steel. 

“Berbeda dengan carbon steel di mana industri turunan atau hilirnya banyak di Indonesia termasuk industri otomotif, galangan kapal, elektronik, dan konstruksi sehingga yang perlu dijaga adalah angka impornya. Walaupun pasar ekspor carbon steel juga terbuka,” kata dia. 

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan pemerintah bakal mendorong ekspor produk besi dan baja untuk mengganti komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan batubara.

Langkah itu diambil untuk menjaga tren positif neraca dagang saat harga dua komoditas unggulan ekspor dalam negeri itu kembali turun seiring dengan pulihnya pasokan global. 

Supercyle itu biasanya antara 6 sampai 14 bulan, tapi kalau saat ini saya melihat paling cepat mungkin baru akhir tahun depan selesai atau menjelang tengah tahun 2023 jadi totalnya hampir 3 tahun,” kata Lutfi melalui sambungan telepon kepada Bisnis, Jumat (15/10/2021). 

Lutfi beralasan pertumbuhan ekspor dari industri besi dan baja itu mengalami pertumbuhan hingga lebih dari 95 persen. Artinya, Lutfi menggarisbawahi kinerja ekspor Indonesia yang bertumpu pada CPO dan batubara dapat mulai beralih pada produk besi dan baja. 

“Untuk produk seperti sepatu dan garmen itu kan sudah biasa, ini kan baru industri besi dan baja kita juga punya aluminium dan alumina. Perhatian kita dua atau tiga tahun ke depan akan pada tembaga dan emas,” kata dia. 

Menjelang tahun 2023, dia menambahkan, komposisi unggulan ekspor dalam negeri bakal bergeser pada industri besi dan baja menyusul proyeksi kembali normalnya harga CPO dan batubara dunia pada saat itu. 

“Sudah bisa digantikan dengan primadona-primadona baru ekspor nonmigas kita. Saya berharap bahwa aluminium dan alumina dapat membantu hilirisasi industri di masa yang akan datang,” kata dia.

Adapun nilai ekspor nonmigas pada September 2021 mencapai US$19,67 miliar atau turun 3,38 persen jika dibanding Agustus 2021. Nilai ekspor ke China tercatat sebesar US$4,54 miliar atau 23,10 persen dari keseluruhan ekspor. Di sisi lain, pangsa ekspor nonmigas ke India mencapai 6,28 persen atau US$1,23 miliar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Neraca Perdagangan ekspor industri besi dan baja
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top