Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sun Energy Akuisisi Merredin Solar Farm di Australia

SUN Energy mengakuisisi aset PLTS berkapasitas 132 MWp/100 MWac dengan total 354.452 panel terpasang dan kapasitas output listrik 274 GWh per tahun.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 30 Oktober 2021  |  05:43 WIB
Sun Energy Akuisisi Merredin Solar Farm di Australia
Ilustrasi PLTS atap. - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, MALANG — SUN Energy, perusahaan pengembang panel surya asal Indonesia, mengakuisisi Merredin Solar Farm, ladang panel terbesar di Australia, dari perusahaan pengembang teknologi surya global, Risen Energy.

Chief Executive Officer SUN Energy Philip Lee mengatakan, akuisisi tu merupakan salah satu ekspansi globalnya perusahaan tersebut ke Australia.

Australia merupakan kunci bagi setiap perusahaan energi surya, mengingat potensi jangka panjangnya untuk pemanfaatan energi surya dan letak geografisnya.

“PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) ini berkapasitas 132 MWp/100 MWac dengan total 354.452 panel terpasang dan kapasitas output listrik 274 GWh per tahun,” katanya dalam keterangan resminya, Jumat (29/10/2021).

Selain melistriki sekitar 42.000 rumah di Australia Barat, Merredin Solar Farm juga berkontribusi untuk melistriki dua fasilitas milik BHP, perusahaan tambang Australia.

BHP telah menandatangani perjanjian bahwa 50 persen listrik yang dihasilkan dari Merredin Solar Farm akan digunakan untuk kilang Nickel West Kwinana dan smelter pertambangan Kalgoorlie. BHP dapat berkontribusi mengurangi emisi dari penggunaan listrik di kedua fasilitas ini sebesar 30 persen sampai 50 persen.

Proyek pembangunan PLTS ini pun memiliki perjanjian dengan Sunshot Energy untuk mengenai sertifikat pembangkit skala besar yang dihasilkan oleh Merredin. Dalam hal ini, Risen Energy akan tetap menjadi kontraktor O&M untuk Merredin Solar Farm usai akuisisi.

“Sebagai pengembang proyek tenaga surya yang kini berpusat di Singapura, SUN Energy telah memperluas portofolio penggunaan energi terbarukan dengan cepat di Asia-Pasifik,” ujarnya.

Pasar Australia adalah kunci bagi perusahaan tersebut mengingat potensi jangka panjangnya untuk penggunaan energi terbarukan dan letak geografisnya. Akuisisi ini mendukung strategi Sun Energy untuk menjadi salah satu perusahaan energi terbarukan terkemuka di Asia-Pasifik melalui kombinasi pengembangan proyek baru dan akuisisi selektif.

Merredin Solar Farm awalnya dibangun dan dioperasikan oleh Risen Energy sejak 2020. Memiliki misi yang sama dengan SUN Energy, Risen Energy bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan energi hijau di seluruh dunia dan berkembang secara internasional melalui ekspansi cabang dan jaringan penjualan di berbagai negara.

Sejak 1986 hingga sekarang, Risen Energy telah mencapai kapasitas produksi modul hingga 19,1 GWp.

Chief Executive Officer Risen Energy Australia, Archie Chen, mengatakan pihaknya sangat senang dapat bekerja sama dengan SUN Energy untuk Merredin Solar Farm.

“PLTS ini merupakan ladang panel surya terbesar kedua yang dikembangkan oleh Risen Energy di Australia, dan kami berharap dapat memberikan lebih banyak proyek energi terbarukan ke Australia di tahun-tahun mendatang,” katanya.

Selama proses akuisisi, SUN Energy bermitra dengan Voltiq (keuangan) dan DLA Piper (hukum) dalam hal transaksi, sedangkan Risen Energy bermitra dengan Holding Redlich (hukum).

Melalui akuisisi ini, SUN Energy berhasil meningkatkan posisinya sebagai salah satu perusahaan energi terbarukan yang paling berkembang dari Indonesia di kawasan Asia-Pasifik, melalui kombinasi investasi untuk pengembangan proyek baru dan akuisisi selektif. (k24)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

akuisisi plts ebt
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top