Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investasi Tekstil Terkonsentrasi di Industri Midstream

Industri midstream atau antara tekstil terdiri atas pemintalan benang, pewarnaan, dan pencetakan. Sejauh ini investasi pada sektor tersebut dinilai tumbuh karena faktor eksternal, bukan dampak dari kebijakan pemerintah.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 28 Oktober 2021  |  17:12 WIB
Pedagang merapikan kain di salah satu gerai di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (8/12/2020).  - Bisnis.com/Himawan L Nugraha
Pedagang merapikan kain di salah satu gerai di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (8/12/2020). - Bisnis.com/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Investasi di sektor tekstil terkonsentrasi di industri antara atau midstream.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan industri antara saat ini paling berpeluang dimasuki investasi asing karena strukturnya yang masih relatif lemah. Adapun industri antara tersebut terdiri atas pemintalan benang, pewarnaan, dan pencetakan.

Namun demikian, Redma memandang suburnya investasi di industri antara, terdorong oleh faktor eksternal dan bukan dampak dari kebijakan pemerintah.

"Kenapa ada investasi di midstream bisa tumbuh? karena kondisi dunia, bukan karena kebijakan pemerintah," katanya saat dihubungi Bisnis, Kamis (28/10/2021).

Faktor eksternal tersebut antara lain lalu lintas perdagangan yang terhambat, biaya pengapalan yang mahal, serta kendala pembatasan di sejumlah negara kompetitor.

Suplai bahan yang terhambat dari kantong-kantong impor seperti China, memunculkan celah yang harus diisi oleh pelaku industri dalam negeri. Celah pasar itu yang akhirnya mendorong masuknya investasi baru.

Redma mengatakan jika ingin terus mendorong aliran investasi asing untuk penguatan struktur industri dalam negeri, hal yang perlu diperhatikan adalah jaminan pasar dengan membatasi impor bahan baku.

"Ini yang dari dulu kami gaungkan, kalau kita hambat impor [bahan baku], pasti investasi masuk. Kalau marketnya dijamin, investasi datang," ujarnya.

Indonesia juga tidak bisa terus mengandalkan momentum situasi global untuk menarik investasi. Pada saat tertentu, iklim perdagangan dan ekonomi dunia akan berganti, sehingga kebijakan pemerintah perlu disiapkan sebagai tumpuan utama.

Salah satu instrumen pengendalian impor yang ditunggu pelaku industri yakni bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) atau safeguard untuk garmen. Penyusunan safeguard disebut-sebut sudah masuk dalam final meski belum juga diteken.

"Sekarang saja kami minta safeguard [garmen] susah sekali. Katanya sudah final, tapi yang penting implementasinya," kata Redma.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi manufaktur tekstil
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top