Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Survei: Pergantian PM Jepang Tak Akan Ubah Kebijakan Bank Sentral

Salah satu agenda penting yang akan dilakukan oleh BOJ pada pekan depan adalah bagaimana Gubernur Haruhiko Kuroda dan dewan lainnya menilai dampak lonjakan kasus Covid-19 pada musim panas ini.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 16 September 2021  |  10:19 WIB
Seorang pekerja berjalan di areal pabrik yang berada di zona industri Keihin, Kawasaki, Jepang (8/3/2017). - .Reuters/Toru Hanai
Seorang pekerja berjalan di areal pabrik yang berada di zona industri Keihin, Kawasaki, Jepang (8/3/2017). - .Reuters/Toru Hanai

Bisnis.com, JAKARTA – Perdana menteri baru Jepang yang akan dilantik dalam beberapa pekan mendatang diperkirakan  tidak akan mengubah kebijakan fiskal atau kebijakan lain untuk memaksa bank sentral mengubah aturan moneternya.

Hal tersebut seperti ditemukan dalam survei Bloomberg yang menunjukkan hampir semua dari 47 ekonom memperkirakan Bank of Japan (BOJ) bakal mempertahankan yield-curve control dan program pembelian aset.

Sekitar 84 persen responden survei memperkirakan tidak akan ada perubahan berarti dalam kebijakan moneter setelah pergantian kepemimpinan politik yang baru. Sementara 14 persen lainnya mengatakan sulit untuk mengatakannya.

Di samping itu, seperti bank sentral di negara lainnya, BOJ juga tengah menghadapi kesulitan.

"Peran pemimpin untuk kebijakan ekonomi Jepang telah beralih kepada kebijakan fiskal dari pelonggaran moneter. Hal yang sama juga akan terjadi di bawah kepemimpinan yang baru," ujar Kentaro Koyama, kepala ekonom Deutsche Bank Group, seperti dikutip Bloomberg pada Kamis (16/9/2021).

Salah satu agenda penting yang akan dilakukan oleh BOJ pada pekan depan adalah bagaimana Gubernur Haruhiko Kuroda dan dewan lainnya menilai dampak lonjakan kasus Covid-19 pada musim panas ini.

Sejumlah anggota dewan gubernur telah memperkirakan bahwa lonjakan tersebut akan memperlambat pemulihan ekonomi. Sementara itu, sejumlah hub ekonomi masih dalam status darurat hingga akhir September.

Tidak ada ekonom yang memandang bahwa bank sentral bakal memberikan sinyal pelonggaran penanganan Covid-19 pada 3 bulan terakhir. Sebelumnya, berkurang dari survei yang dilakukan 2 bulan lalu sebesar 18 persen.

BOJ sendiri masih tertinggal dari rekan-rekan global. Bank Sentral Eropa telah memutuskan untuk memperlambat laju pembelian obligasi yang didorong oleh pandemi pada pertemuan pekan lalu dan Federal Reserve akan mengakhiri jam pertemuannya setelah BOJ. Bank sentral AS diperkirakan akan memulai tapering pada akhir tahun ini.

Dibandingkan dengan AS dan Eropa, inflasi di Jepang cenderung lebih rendah. Kuroda mengatakan siap untuk meningkatkan stimulus yang diperlukan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi jepang bank of japan
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top