Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

London Tetap Jadi Hub Keuangan Global Meski Dibayangi Dampak Brexit

Survei terhadap lebih dari 100 bank, manajer aset dan perusahaan asuransi menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga percaya bahwa London akan tetap menjadi pusat keuangan utama.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 September 2021  |  07:57 WIB
London Tetap Jadi Hub Keuangan Global Meski Dibayangi Dampak Brexit
Suasana di Tower Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Bloomberg - Simon Dawson

Bisnis.com, JAKARTA - London tetap menjadi pusat keuangan global terkemuka meski ada ketidakpastian atas regulasi akibat Brexit, menurut survei sentimen tahunan Lloyds Bank terhadap perusahaan-perusahaan keuangan pada Senin (13/9/2021).

Seperti diketahui, Inggris telah sepenuhnya meninggalkan Uni Eropa, pelanggan ekspor tunggal terbesarnya, pada Desember tahun lalu. Alhasil, ribuan pekerjaan dan miliaran euro dalam perdagangan harian berpindah dari London ke benua tersebut, meningkatkan kekhawatiran tentang pengaruh ibu kota itu dalam keuangan global.

Namun, survei terhadap lebih dari 100 bank, manajer aset dan perusahaan asuransi menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga percaya bahwa London akan tetap menjadi pusat keuangan utama.

"Tampaknya masuk akal untuk menyimpulkan bahwa, sementara status London telah terpukul karena Brexit, London akan tetap menjadi salah satu pusat keuangan terkemuka dunia," kata survei tersebut.

Brexit menyebabkan sektor keuangan Inggris terputus dari Uni Eropa dan survei menunjukkan bahwa 42 persen percaya pembukaan kembali akses tidak akan terjadi hingga 2023 atau lebih lama lagi, sementara hampir sepertiga mengatakan hal itu tidak akan pernah terjadi.

Perubahan peraturan dipandang sebagai ancaman terbesar, konsisten dengan “ketidakpastian yang sedang berlangsung” atas bentuk reformasi peraturan beberapa bulan setelah Brexit, kata survei tersebut.

Dengan sedikit prospek akses ke Uni Eropa, kementerian keuangan Inggris mengajukan proposal reformasi yang belum diimplementasikan.

Survei menunjukkan perpecahan pendapat, dengan beberapa perusahaan mengatakan bahwa daya saing akan meningkat karena perbedaan dari aturan Uni Eropa, sementara yang lain mengatakan daya saing akan memburuk karena perbedaan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa london Brexit
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top