Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengabaian Paten Vaksin WTO Ditarget Rampung Akhir Tahun Ini

Pengabaian paten yang dimaksud yakni terkait Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) yang diusulkan India dan Afrika Selatan, dengan tujuan membuka akses produksi vaksin di banyak negara.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 27 Juli 2021  |  14:38 WIB
Ngozi Okonjo-Iweala, Mantan Menteri Keuangan Nigeria, yang kini menjabat sebagai Dirjen WTO -  Bloomberg
Ngozi Okonjo-Iweala, Mantan Menteri Keuangan Nigeria, yang kini menjabat sebagai Dirjen WTO - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Sementara kesenjangan akses vaksin terus menjadi ganjalan bagi pemulihan dunia, debat pengabaian paten di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) belum mereda. Meski demikian, hasil pragmatis dari perundingan diharapkan dapat tercapai pada akhir 2021.

Pengabaian paten yang dimaksud yakni terkait Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) yang diusulkan India dan Afrika Selatan, dengan tujuan membuka akses produksi vaksin di banyak negara.

Juru Bicara WTO Keith Rockwell menekankan bahwa perundingan ini menjadi tanggapan utama organisasi terhadap Covid-19 dan merupakan prioritas paling penting saat ini.

"Jutaan orang telah meninggal dan nyawa dipertaruhkan. Menemukan hasil pragmatis pada Desember sangat penting," katanya dilansir Bloomberg, Selasa (27/7/2021).

Perdebatan mengenai pengabaian paten adalah masalah politik yang meledak-ledak bagi negara-negara dengan tingkat vaksinasi tinggi. Kelompok negara itu tidak ingin dilihat sebagai penghalang bagi akses obat-obatan penting ke negara-negara miskin yang warganya menderita dengan tingkat tidak proporsional.

Menurut statistik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga saat ini, 75 persen vaksin telah diberikan hanya di 10 negara dan hanya 1 persen orang di negara berpenghasilan rendah yang telah menerima setidaknya satu dosis.

Sementara itu, perusahaan farmasi mengatakan mereka bekerja setiap hari untuk mengatasi kemacetan yang sebenarnya dan berada di jalur yang tepat untuk mengirimkan 11 miliar vaksin pada akhir tahun, cukup untuk menginokulasi seluruh populasi orang dewasa di dunia.

Menurut draf laporan yang ditulis Ketua Dewan WTO Dagfinn Sørli, ketidaksepakatan tetap ada pada pertanyaan mendasar tentang apakah pengabaian paten adalah cara yang tepat dan paling efektif untuk mengatasi kekurangan vaksin.

Ketidaksepakatan mengancam prospek pencapaian mufakat karena keputusan WTO harus diambil berdasarkan konsensus, yang berarti salah satu dari 164 anggota dapat memveto kesepakatan akhir dengan alasan apa pun.

Pendukung pengabaian itu berharap untuk menyelesaikan negosiasi pada akhir Juli dan kini mengkritik Uni Eropa dan negara-negara maju lainnya karena menunda pembicaraan.

Komisi Eropa, yang menentang pengabaian TRIP telah mengusulkan serangkaian tindakan yang akan menciptakan kepastian hukum lebih besar bagi negara-negara untuk memanfaatkan perangkat perdagangan untuk memperluas kapasitas produksi mereka.

"Uni Eropa tidak tertarik [dengan pembicaraan TRIP] Swiss, Norwegia, dan Inggris tidak terlibat. Tidak ada niat untuk terlibat," kata Shailly Gupta, juru bicara di Médecins Sans Frontières

Uni Eropa membantah bahwa proposal dari Brussel adalah gangguan untuk mengalihkan fokus dari proposal India dan Afrika Selatan sebelumnya dan untuk mencegah anggota terlibat dalam negosiasi yang lebih jauh.

Sementara itu, Amerika Serikat meski telah mengumumkan dukungannya terhadap pengabaian paten, antusiasme keterlibatannya mulai berkurang.

Meskipun pengumuman mengejutkan Kepala Perdagangan Katherine Tai secara singkat memukul saham Moderna Inc., Pfizer Inc., dan BioNTech SE, saham dengan cepat rebound dan semuanya sekarang diperdagangkan pada atau mendekati level tertinggi tahun ini.

Namun demikian, Perwakilan Dagang AS Adam Hodge menyatakan tetap terlibat secara mendalam dalam diskusi untuk menemukan konsensus sementara pada masalah ini.

"Administrasi Biden-Harris terus meningkatkan upaya kami untuk menyumbangkan dosis dan memperluas pembuatan dan distribusi vaksin yang adil di seluruh dunia," katanya.

Sebagian besar negara yang memproduksi vaksin menentang pengabaian menyeluruh terhadap aturan kekayaan intelektual WTO karena mereka mengatakan itu akan membahayakan inovasi dan tidak berdampak banyak ke perluasan akses. Bahkan dikahwatirkan juga akan menjadi bumerang.

Secara khusus, penentang pengabaian mengatakan pengabaian itu akan menciptakan tambal sulam hukum yang kacau, mengungkap kemitraan industri yang ada, menyebabkan krisis pasokan untuk input vaksin yang langka, dan menambah lebih banyak ketidakpastian ke dalam pengaturan yang sudah kompleks.

Ada juga kemungkinan bahwa pengabaian hak paten dapat mengakibatkan produksi obat-obatan palsu dan di bawah standar, yang dapat meningkatkan keraguan terhadap vaksin yang sudah menyebar bahkan di negara-negara terkaya di dunia.

"Semua orang tahu hak paten bukanlah masalah dan tidak ada perbaikan cepat untuk memvaksinasi dunia dengan teknologi terbaru," kata Robert Grant, Direktur Senior di Kamar Dagang AS.

Menurut Grant, sebagian besar pemerintah mengetahui hal ini tetapi karena kepekaan politik mereka tidak akan mengatakannya secara terbuka.

Sementara itu, perundingan di Jenewa, kantor pusat WTO, telah ditunda hingga minggu kedua September. Pekan depan, delegasi WTO akan meninggalkan Jenewa untuk liburan musim panas.

Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala sebelumnya mendesak para duta besar untuk mempersingkat liburan musim panas selama enam minggu, untuk fokus pada masalah-masalah mendesak seperti pengabaian paten. Namun demikian, anggota tidak berencana untuk mempertimbangkan kembali masalah ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

WTO Vaksin Covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top