Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Prospek Masih Cerah, Kuartal III Bisa Jadi Momentum Peritel Tumbuh

Semester kedua tahun ini diyakini bisa menjadi momentum pertumbuhan bagi industri ritel karena masyarakat sudah beradaptasi dengan kebiasaan baru.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 22 Juni 2021  |  21:00 WIB
Prospek Masih Cerah, Kuartal III Bisa Jadi Momentum Peritel Tumbuh
Ilustrasi ritel modern
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pengamat ritel berpandangan kuartal III/2021 bisa menjadi momentum bagi peritel modern untuk tumbuh demi menyiapkan pondasi kinerja yang lebih baik pada tahun depan.

Namun, hal ini harus diikuti dengan upaya ekstra penanggulangan Covid-19 dan peningkatan standar protokol kesehatan untuk menjaga keyakinan belanja konsumen.

“Semester kedua seharusnya menjadi masa pertumbuhan. April sudah tumbuh positif, Mei pasti bagus karena Lebaran, dan Juni anjlok karena Covid-19 dan konsumen mengurangi belanja. Tugas ada di Juli dan Agustus, bisnis harus diusahakan naik, tetapi Covid-19 harus di-handle dulu. Kalau tidak demikian masyarakat akan takut belanja meski dikatakan aman,” kata pengamat ritel Yongky Susilo, Selasa (22/6/2021).

Yongky menjelaskan pergerakan bisnis ritel kerap dipengaruhi oleh siklus konsumsi setiap kuartal. Sebagai contoh, kuartal I kerap diikuti dengan penurunan penjualan karena masyarakat cenderung berhati-hati berbelanja. Sementara pada kuartal II selalu menjadi momen puncak penjualan karena bersamaan dengan Ramadan dan Idulfitri.

“Kuartal ketiga biasanya [pertumbuhan] merah sebulan lalu mulai naik perlahan sampai akhir tahun. Semester kedua menjadi baseline untuk masuk ke tahun depan sehingga pandemi harus tertangani. Jika tidak pengaruhnya bisa masif, bahkan ke prospek investasi baru,” kata dia.

Selain mengharapkan kebijakan tegas dari pemerintah yang bisa mengakomodasi roda bisnis sekaligus mencegah penularan pandemi, Yongky juga menyarankan peritel untuk meningkatkan standar protokol kesehatan yang diterapkan.

Menurutnya, langkah-langkah pengukuran suhu badan pengunjung tidaklah lagi cukup untuk menjamin lingkungan belanja benar-benar aman.

“Saya sudah sarankan pelaku usaha mulai mengadopsi pemakaian oxymeter karena virus ini tidak melulu memengaruhi suhu badan. Virusnya baru, maka antivirus harusnya diperbarui,” kata dia.

Terpisah, Ketua Umum Aprindo Roy N. Mandey mengharapkan pemerintah daerah bisa tetap mengakomodasi aktivitas ritel modern sesuai dengan ketentuan yang berlaku di pusat, yakni jam buka maksimal pukul 20.00.

Dia mengatakan sejumlah daerah bahkan mulai membatasi jam operasional pada pukul 19.00 dan hal tersebut dinilai tidak sejalan dengan upaya menjaga roda bisnis di tengah penanganan pandemi.

Selain itu, Roy mengatakan bahwa pelaku usaha tengah menanti janji insentif sektor ritel yang sempat disampaikan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Roy mengatakan regulasi mengenai insentif ini tengah disiapkan Kemenko Perekonomian untuk dibahas lebih lanjut dengan kementerian dan lembaga lain.

“Info yang saya peroleh insentif akan mencakup perpajakan bagi industri ritel yang sifatnya mendorong keberlangsungan bisnis. Kami meminta perilisannya dipercepat agar peritel tak keburu mengambil kebijakan strategis seperti menutup bocah dan untuk menopang konsumsi rumah tangga karena itu yang memberi kami harapan untuk tumbuh,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel modern pemulihan ekonomi ppkm mikro
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top