Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sri Mulyani Sebut Inflasi di AS Bikin Was-Was

Menurut Sri, inflasi di As terus menguat sehingga menambah risiko normalisasi kebijakan moneter secara cepat.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 25 Mei 2021  |  18:01 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat tiba di depan Ruang Rapat Paripurna I untuk menghadiri Pembukaan Masa Persidangan I Tahun Sidang 2020-2021 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat tiba di depan Ruang Rapat Paripurna I untuk menghadiri Pembukaan Masa Persidangan I Tahun Sidang 2020-2021 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa seluruh pihak harus tetap waspada terhadap berbagai macam risiko yang bersifat dinamis seiring dengan menjaga momentum pemulihan ekonomi. Contohnya, inflasi di Amerika Serikat.

Menurut Sri, inflasi di As terus menguat sehingga menambah risiko normalisasi kebijakan moneter secara cepat.

"Inflasi Amerika tadi saya sebutkan 4,2 [persen] itu angka yang tinggi menimbulkan kewaspadaan yang tinggi atau keadaan was-was di sektor keuangan," jelas Sri daam konferensi pers APBN KiTa secara virtual, Selasa (25/5/2021).

Meski begitu, tekanan yield US treasury (UST) yang terjadi di AS akibat lonjakan inflasi mulai mereda pada April. Sehingga, inflow ke emerging market atau negara-negara berkembang kini kembali terjadi di kuartal II/2021.

Awalnya, yield UST 10 tahun mengalami lonjakan dramatis. Pada Januari 2021, yield UST 10 tahun berada di level 1,06, namun meloncat hingga ke level 1,6 pada Maret dan 1,62 pada April 2021.

"Ini suatu kenaikan yang lebih dari 60 persen dalam waktu kurang dari dua bulan. Akibat tekanan inflasi yang tinggi," ujar Sri.

Di sisi global bonds Indonesia terhadap AS, Sri mengatakan Indonesia mengalami spread yang semakin kecil atau menyempit. Artinya, ketika yield UST mengalami kenaikan spread dari 1,06 ke 1,6, yield Indonesia justru tetap bertahan sehingga spread mengecil ke 66 bps dibandingkan dengan awal tahun yaitu sekitar 110 bps.

"Ini sesuatu yang perlu kita jaga karena spread menunjukkan bagaimana rating kita dalam membayar utang-utang terutama pada level global dalam denominasi yang sama yaitu USD," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi amerika serikat sri mulyani
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top