Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Defisit APBN Maksimal 3 Persen 2023, Ini Penjelasan Sri Mulyani

Tahun 2020, dari target 6,34%, realisasi defisit sebesar 6,09%. Adapun, tahun ini batas maksimum defisit diturunkan menjadi 5,7 persen.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 24 Mei 2021  |  22:56 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat tiba di depan Ruang Rapat Paripurna I untuk menghadiri Pembukaan Masa Persidangan I Tahun Sidang 2020-2021 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat tiba di depan Ruang Rapat Paripurna I untuk menghadiri Pembukaan Masa Persidangan I Tahun Sidang 2020-2021 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA -  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan perihal upaya yang akan dilakukan pemerintah untuk mengembalikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi 3% dari produk domestik bruto pada 2023. 

Undang-Undang No. 2/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Covid-19 mengamanatkan defisit sudah harus kembali di bawah 3 persen pada 2023.

Seperti diketahui, sejak pandemi Covid-19, angka defisit menjadi diperbolehkah melebar dengan syarat hanya 3 tahun. Tahun 2020, dari target 6,34%, realisasi defisit sebesar 6,09%. Adapun, tahun ini batas maksium defisit diturunkan menjadi 5,7 persen.

“Untuk konsolidasi fiskal terutama defisit 3 persen, diskusi di internal pemerintah karena 2023 masih one step ahead [jelang satu tahun] dari 2022, jadi kita lihat momentum pemulihan seberapa cepat,” katanya saat ditanya oleh dalam DPR, Senin (24/5/2021).

Dalam kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM PPKF) rancangan APBN 2022, defisit APBN terhadap PDB antara 4,51 persen sampai 4,85 persen.

Sri menjelaskan, bahwa angka ini masih asumsi dan akan dipengaruhi oleh realisasi pada tiga kuartal tersisa di tahun 2021. Oleh karena itu, Kementerian Keuangan akan menunggu sambil menyiapkan skenario terhadap situasi yang berkembang.

"Contohnya, seperti apa dampak defisit yang cukup dalam terhadap pertumbuhan ekonomi. Lalu, apakah akselerasi pemulihan ekonomi tahun ini sudah cukup kuat sehingga peran APBN bisa diturunkan, itu semua kan subjek tergantung pada 2021. Jadi kami butuh waktu untuk exercise [membahas] untuk terus dimantangkan,” jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apbn sri mulyani defisit anggaran
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top