Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sapi Bakalan Australia Masih Mahal, Tekanan Usaha Penggemukan Berlanjut

Pasar yang selama ini diisi oleh daging sapi bakalan eks-impor berpotensi digeser oleh daging impor murah dari India atau Brasil.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 28 April 2021  |  15:30 WIB
Ilustrasi sapi bakalan
Ilustrasi sapi bakalan

Bisnis.com, JAKARTA – Tekanan pada industri penggemukan sapi (feedlot) diperkirakan masih berlanjut pada 2021 menyusul masih tingginya harga sapi bakalan asal Australia.

Para pelaku usaha pun dihadapkan pada risiko hilangnya pasar yang kini mulai diisi pasokan daging sapi/kerbau murah dari negara alternatif seperti India dan Brasil. 

Presiden Direktur PT Juang Jaya Abadi Alam—perusahaan penggemukan sapi bakalan eks impor anggota Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong (Gapuspindo)— Dicky Adiwoso mengatakan bisnis feedlot tengah menghadapi tekanan berat akibat ketergantungan yang tinggi pada pasokan sapi bakalan dari Australia selama 30 tahun terakhir.

Kapasitas kandang yang terisi dia sebut hanya mencapai 50 persen dari rata-rata 200.000 ekor dalam satu kali siklus penggemukan.

“Beberapa feedlot pada 2020 dan mendekati 2021 sudah menutup operasi mereka. Yang masih berjalan pun sudah menurun kapasitasnya mendekati 50 persen. Jadi semua feedlot sedang berusaha bertahan untuk survive menghadapi masa sulit,” kata Dicky dalam diskusi daring, Rabu (28/4/2021).

Laporan Status Industri Sapi Indonesia-Australia 2020 yang diterbitkan oleh Indonesia-Australia Red Meat and Cattle Partnership (RMCP) menunjukkan keanggotaan Gapuspindi telah menurun dari 26 pada 2019 menjadi 24 anggota pada akhir 2020.

Sementara 4 perusahaan telah menyatakan rencana untuk berhenti beroperasi secara permanen karena iklim bisnis yang tidak kondusif. 

Dicky mengatakan untuk kali pertama dalam sejarah bisnis penggemukan sapi di Indonesia, harga jual sapi jenis Brahman Cross asal Australia lebih mahal dibandingkan dengan harga sapi lokal.

Harga jual sapi hidup eks-impor dia sebut telah mencapai Rp48.000 sampai Rp50.000 per kilogram (kg), sedangkan sapi lokal masih di angka Rp46.000 sampai Rp47.000 per kg.

Dengan segala keterbatasan bisnis penggemukan dalam memenuhi kebutuhan konsumen, Dicky mengatakan pasar yang selama ini diisi oleh daging sapi bakalan eks-impor bisa digeser oleh daging impor murah dari India atau Brasil.

Sebagaimana diketahui, tahun ini pemerintah menugasi BUMN untuk mengimpor 80.000 ton daging kerbau India dan 20.000 ton daging sapi asal Brasil. Adapun dari rata-rata kebutuhan daging sapi impor sebesar 400.000 setiap tahunnya, 45 persen diisi oleh daging hasil usaha penggemukan.

“[Daging sapi murah] ini sudah masuk ke pasar-pasar yang biasa diisi daging sapi dari feedlot. Ini akan menjadi sebuah tantangan kami pada masa mendatang. Kami banyak kehilangan konsumen. Yang biasa beli sapi kami kini sudah mulai menjual daging-daging alternatif yang didatangkan pemerintah, yakni daging kerbau India,” lanjutnya.

Dicky menyebutkan pelaku usaha kini tengah mengupayakan impor sapi bakalan dari negara alternatif seperti Meksiko. Laporan Indonesia-Australia RMCP menyebutkan pelaku usaha dan pemerintah sedang mengupayakan impor 200.000 sampai 300.000 ekor sapi bakalan dari Meksiko pada 2021.

Brasil pun dikabarkan juga secara aktif mendorong peningkatan akses ke pasar Indonesia dengan menawarkan harga sapi bakalan dengan plafon harga tetap dari kawasan bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Harga sapi bakalan dari kedua negara ini tercatat 10 sampai 15 persen lebih murah dibandingkan dengan sapi Australia saat tiba di Indonesia.

“Kami mengupayakan alternatif, naik dari Meksiko maupun pembicaraan dengan Brasil. Meski tantangannya masih banyak, tetap kita harus melakukan hal tersebut untuk membuat kesinambungan usaha kita pada saat sulit,” kata dia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

australia impor daging sapi penggemukan sapi
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top