Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Alternatif Pemasok Sapi Bakalan Tak Bisa Instan

Bisnis penggemukan sapi di dalam negeri cenderung rapuh dan sangat tergantung pada kondisi pasokan di negara asal.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 02 Maret 2021  |  19:02 WIB
Peternak menjual sapi di Pasar Hewan Tumpang, Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5/2015). - Antara/Ari Bowo Sucipto
Peternak menjual sapi di Pasar Hewan Tumpang, Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5/2015). - Antara/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA – Langkah untuk mencari negara pemasok sapi bakalan alternatif yang baru mengemuka dalam beberapa bulan terakhir dinilai cenderung terlambat.

Indonesia seharusnya bisa mengantisipasi ketatnya pasokan sapi bakalan Australia sejak awal karena kenaikan harga mulai terjadi pada pertengahan 2020.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa kepekaan intelijen ekonomi kurang bagus. Seharusnya menyiapkan alternatif sejak awal dan perubahan rantai pasok sudah dibaca,” kata ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah, Selasa (2/3/2021).

Dia mengemukakan bisnis penggemukan sapi di dalam negeri memang cenderung rapuh dan sangat tergantung pada kondisi pasokan di negara asal.

Selain itu, mendatangkan sapi bakalan dari negara alternatif di Amerika Selatan pun dia sebut tidak mudah. Rusli mengatakan pelaku usaha harus mempertimbangkan logistik yang berpotensi lebih mahal karena jarak yang lebih jauh.

“Jika impor dari sana yang paling mungkin adalah dalam bentuk daging beku. Untuk sapi bakalan apakah dengan jarak yang jauh tersebut memungkinkan? Bagaimana potensi susutnya juga harus jadi pertimbangan. Kita impor sapi bakalan selama ini pertimbangannya dekat kalau dari Australia,” kata dia.

Demi menghindari dampak panjang dari pasokan sapi bakalan Australia yang terbatas saat pemulihan populasi, pelaku usaha dan pemerintah sedang membicarakan peluang untuk mengimpor sapi bakalan dari Meksiko.

Negara tersebut menjadi opsi alternatif karena telah dinyatakan bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) dan bisa melakukan pengiriman sapi hidup. 

“Namun memang untuk implementasinya tidak bisa cepat. Ada tahap-tahap yang harus diikuti. Bagaimanapun kita tidak bisa hanya bergantung dari satu pemasok yang selama ini berasal dari Australia,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong (Gapuspindo) Joni P. Liano.

Alternatif pemasok ini pun disebut Joni perlu mengingat Australia mulai mendiversifikasi pasar untuk sapi bakalannnya. Menurut data Departemen Pertanian Australia, ekspor sapi bakalan ke Vietnam tumbuh dalam 2 tahun terakhir ketika ekspor ke Indonesia turun.

Pada 2020 misalnya, ekspor sapi bakalan jantan Australia ke Vietnam naik dari 267.563 ekor menjadi 289.555 ekor. Sementara ke Indonesia turun dari 674.076 ekor menjadi 466.525 ekor.

Dihubungi terpisah, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fadjar Sumping Tjatur Rasa menyebutkan pemerintah sejauh ini belum menerbitkan rekomendasi impor sapi bakalan baik dari Meksiko maupun dari Brasil. Fadjar menjelaskan Brasil belum masuk dapat negara pemasok karena belum bebas dari PMK.

“Saat ini belum ada rekomendasi impor yang diterbitkan untuk pemasukan dari Meksiko. Sempat ada yang mengajukan tetapi ditolak sistem karena tidak memenuhi persyaratan,” kata Fadjar.

Dia menjelaskan Meksiko telah menjadi negara yang memenuhi syarat untuk melakukan pengiriman sapi hidup ke Indonesia sejak 2016. Rekomendasi impor juga pernah diterbitkan oleh Kementerian Pertanian, tetapi belum pernah direalisasikan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga daging sapi impor sapi bakalan
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top