Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perkiraan Utilisasi Industri Kawat Baja Tahun Ini 50-60 Persen

Insentif pembelian rumah dan kewajiban penggunaan produk lokal pada proyek properti dan konstruksi belum akan signifikan mendorong pada awal tahun ini.
Ipak Ayu
Ipak Ayu - Bisnis.com 24 Maret 2021  |  16:22 WIB
Kawat baja - Reuters
Kawat baja - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA —Wakil Ketua Gabungan Industri Produk Kawat Baja Indonesia (Gipkabi) Sindu Prawira memperkirakan utilisasi industri pabrik kawat baja akan mencapai 50-60 persen. Namun hal ini sangat tergantung dengan kesuksesan program vaksinasi Covid-19 yang tengah dilakukan pemerintah

"Sementara banyak kapasitas yang tidak terpakai sehingga tidak diperlukan impor produk hilir," katanya kepada Bisnis, Rabu (24/3/2021).

Adapun saat ini produksi pabrikan pabrik kawat baja berupa mur, baut, sekrup, hingga paku. Industri ini pada periode sebelum 2018 cukup tertantang dengan derasnya produk impor yang masuk. Meski lebih stabil mulai periode 2019, tetapi tahun lalu harus kembali menelan pahit akibat pandemi Covid-19.

Alhasil, utilisasi yang diharapkan pabrikan untuk menuju setidaknya level 80 persen saat ini masih cukup sulit.

Sindu mengemukakan adanya insentif pembelian rumah dan kewajiban penggunaan produk lokal pada proyek properti dan konstruksi juga belum akan signifikan mendorong pada awal tahun ini.

Pasalnya, perekonomian masih belum bergerak dan masyarakat masih banyak yang khawatir berwisata. Alhasil, industri berharap akan mulai menerima dampak postifi pada paruh kedua nanti.

Selain itu, Sindu juga menilai pengecualian limbah slag dan scale dari Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) akan meningkatkan efisiensi dan produktifitas baja nasional ke depan.

Dia pun mengharap agar masyarakat tidak menyalah artikan bahwa industri tidak peduli pada lingkungan karena ketika industri mencemari lingkungan maka dampak jangka panjangnya juga akan kembali pada industri.

"Di negara-negara lain slag dan scale tidak masuk kategori limbah B3, Indonesia saja yang baru sadar. Dengan pemanfaatan slag dan scale maka akan makin meningkatkan daya saing produk nasional dalam menghadapi serbuan produk impor, maupun untuk kami bersaing di pasar internasional," ujarnya.

Sindu pun menambahkan banyak alternatif re-use dari slag dan scale yang sama sekali tidak mencemari lingkungan. Penggunaan slag dan scale untuk material pengerasan jalan, termasuk untuk campuran bahan semen dan beton dibeberapa negara maju bahkan sudah dilakukan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur baja Covid-19
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top