Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Janet Yellen Beberkan Risiko Inflasi AS Kecil dan Dapat Dikendalikan

Menkeu AS Janet Yellen melihat pergerakan inflasi AS bukan risiko yang signifikan dan masih dapat dikendalikan.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 15 Maret 2021  |  10:43 WIB
Menteri Keuangan perempuan pertama di Amerika Serikat Janet Yellen -  Bloomberg
Menteri Keuangan perempuan pertama di Amerika Serikat Janet Yellen - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan risiko inflasi Amerika Serikat tetap terkendali karena pemerintahan Joe Biden memompa bantuan pandemi senilai US$ 1,9 triliun ke dalam ekonomi dan efek ke lapangan kerja mulai terlihat.

“Apakah ada risiko inflasi? Saya pikir ada risiko kecil dan saya pikir itu bisa dikelola, "kata Yellen dilansir Bloomberg, Senin (15/3/2021).

Dia melanjutkan, beberapa harga yang turun tahun lalu ketika pandemi Covid-19 menyebar ke seluruh AS akan pulih, tetapi itu pergerakan sementara.

"Menurut saya, ini bukan risiko yang signifikan," ujar Yellen yang juga mantan Gubernur Federal Reserve.

Jika risiko inflasi itu terwujud, Yellen akan memantaunya dan menjanjikan perangkat untuk mengatasinya.

Saat perhatian beralih ke janji Presiden Joe Biden untuk meningkatkan belanja infrastruktur, Yellen mengatakan pemerintah belum memutuskan apakah akan menerapkan jenis pajak kekayaan yang didukung oleh sejumlah senator progresif yang dipimpin oleh Elizabeth Warren dan Bernie Sanders.

Yellen mengatakan janji kampanye yang dibuat oleh Biden, termasuk tarif pajak yang lebih tinggi pada perusahaan, keuntungan modal dan pembayaran dividen, memiliki dampak serupa terhadap pajak kekayaan.

Biden menandatangani paket bantuan pandemi menjadi undang-undang pada Kamis pekan lalu, memberikan dana untuk vaksinasi dan bantuan kepada rumah tangga, bisnis dan pemerintah negara bagian dan lokal.

Yellen dan pejabat lainnya bersikeras bantuan itu sangat dibutuhkan untuk ekonomi yang terhantam oleh Covid-19, terutama pekerja berpenghasilan rendah yang banyak terwakili di industri jasa.

Meskipun pengangguran AS tetap tinggi, terutama jika menyertakan orang-orang yang keluar dari angkatan kerja pada tahun lalu, penciptaan lapangan kerja telah kembali.

Pengusaha menambahkan 379.000 posisi baru pada Februari, lebih dari yang diharapkan. Departemen Tenaga Kerja melaporkan aplikasi untuk tunjangan pengangguran AS turun lebih dari perkiraan pekan lalu ke level terendah sejak awal November.

"Saya berharap, jika kita mengalahkan pandemi, ekonomi kita bisa kembali mendekati lapangan kerja penuh tahun depan, dan saya pikir ini adalah paket yang kita butuhkan untuk melakukan itu," katanya.

Partai Republik keberatan dengan besara paket stimulus, dan bahkan beberapa ekonom liberal seperti mantan Menteri Keuangan Lawrence Summers mempertanyakan apakah pengeluarannya berlebihan mengingat ekonomi secara umum telah kembali tangguh.

"Jika Anda memasukkan terlalu banyak air ke dalam bak mandi, itu akan meluap," kata Summers.

Sementara pandangannya tentang kesinambungan fiskal telah bergeser di era suku bunga yang terus-menerus rendah, Yellen mengatakan dalam jangka panjang, pihaknya harus mengendalikan defisit.

Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan bahwa langkah-langkah infrastruktur, proyek besar ekonomi pemerintahan Biden berikutnya, akan sehat secara fiskal.

Meskipun menyarankan pengukuran pendapatan dapat mencakup sesuatu yang mirip dengan obligasi Build America pemerintahan Obama, dia menolak untuk mengonfirmasi bahwa kenaikan pajak akan diperlukan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi stimulus as janet yellen
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top