Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suku Bunga Acuan Rendah, Harga Rumah di Australia Bakal Terus Naik

Harga perumahan di Australia tahun ini hingga 2023 diprediksi terus meningkat, dipicu oleh rendahnya suku bunga acuan, dengan bank sentral negara itu menjanjikan mempertahankannya setidaknya selama 3 tahun.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 06 Maret 2021  |  01:25 WIB
Suasana di Kantor Reserve Bank of Australia -  Bloomberg
Suasana di Kantor Reserve Bank of Australia - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga rumah di Australia diprediksi naik 10 persen tahun ini, didorong suku bunga rendah dan sentimen membaik, tetapi ada risiko termasuk potensi Reserve Bank of Australia (RBA) lebih hawkish (kecenderungan menaikkan suku bunga acuan), kata Goldman Sachs Group.

Prospek konstruksi perumahan dan omzet juga menguat dalam beberapa bulan terakhir, kata Goldman dalam catatan penelitian yang dirilis pada Jumat (5/3/2021).

Dikombinasikan dengan efek kekayaan yang positif, Goldman memperkirakan "dorongan keseluruhan industri perumahan terhadap PDB tahunan akan berada di sekitar +1 poin persentase" selama beberapa tahun mendatang.

"Prospek ini mengasumsikan bahwa imigrasi normal kembali ke level sebelum Covid pada 2022 dan RBA [bank sentral Australia] tidak menaikkan suku bunga sampai kuartal II/2024," tulis Andrew Boak, kepala ekonom Goldman untuk Australia.

"Pembatasan perbatasan yang lebih berkepanjangan atau pengetatan kebijakan moneter yang lebih awal dari perkiraan menimbulkan risiko penurunan," lanjutnya.

Lebih jauh lagi, Goldman memperkirakan bahwa harga rumah meningkat sebesar 5 persen tahun depan dan 3 persen pada 2023.

Pasar perumahan Australia telah mengumpulkan kekuatan karena ekonomi pulih, dengan pada Februari mencatat kenaikan harga bulanan terbesar dalam 17 tahun terakhir.

Boak sangat memperhatikan potensi Gubernur RBA Philip Lowe untuk berubah hawkish selama beberapa tahun mendatang di tengah kekhawatiran baru seputar tingkat utang perumahan dan risiko stabilitas makro.

"Untuk saat ini, kami mengharapkan RBA tetap dovish [kecondongan bank sentral menunda kenaikan suku bunga acuan] dan fokus pada pencapaian target untuk inflasi dan pengangguran, dan untuk mengurangi risiko seputar kenaikan harga rumah," lanjutnya.

Perumahan Australia lepas landas setelah bank sentral memangkas suku bunga ke rekor terendah dan mengatakan mereka kemungkinan akan mempertahankannya setidaknya selama 3 tahun.

Namun, ledakan harga itu menyulitkan kaum muda untuk membeli properti, dengan Sydney pasar ketiga paling terjangkau di dunia, dan Melbourne keenam, sebuah laporan menunjukkan pekan lalu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti australia

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top