Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sri Mulyani Ungkap Utang Negara Maju Naik Double Digit, RI Masih Single Digit

Sri Mulyani membeberkan utang negara-negara maju tumbuh double digit. Sementara itu, Indonesia masih tumbuh di kisaran 8 persen.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 23 Februari 2021  |  14:03 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan rancangan APBN 2021 dalam konferensi pers virtual, Selasa (1/12/2020)  -  Foto: Kemenkeu RI
Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan rancangan APBN 2021 dalam konferensi pers virtual, Selasa (1/12/2020) - Foto: Kemenkeu RI

Bisnis.com, JAKARTA - Negara-negara maju mencatat kenaikan utang publik dikisaran 20 persen atau lebih sepanjang tahun lalu. Sementara itu, Indonesia sebagai negara maju hanya mencatat kenaikan di kisaran 8 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, Italia dan Perancis, yang merupakan negara maju anggota G7 (kecuali Italia), mencatat kenaikan utang publik di atas 20 persen dalam setahun selama Covid-19.

"Artinya, mereka mengunakan fiscal policy-nya secara luar biasa," ujarnya dalam konferensi pers APBN KITA, Selasa (23/2/2021).

Meskipun sangat kuat kebijakan fiskal mereka, Sri Mulyani mengungkapkan konstruksi ekonomi negara-negara tersebut cukup besar, kecuali AS yang terkontraksi hanya 3,5 persen.

"Tetapi yang lain kontraksinya dalam, public debt-nya naik," tegas Sri Mulyani.

Kondisi ini mengambarkan betapa APBN mengalami pukulan double, yakni dari penerimaan yang turun dan belanja yang meningkat. Semua dilakukan untuk mengatasi pandemi Covid-19 dan meminimalkan pukulan pada ekonomi.

Sri Mulyani melanjutkan kondisi di negara maju ini berbeda dengan di Tanah Air. Indonesia, kata Sri Mulyani, pasar utangnya belum sedalam negara maju.

"Tetapi bukan berarti kita tidak bisa membandingkan agar policy fiscal bisa seefektif dan seefisien mungkin," katanya.

"Kita akan melihat mana yang efektif dan tidak membuat defisit kita melebar dan publik debt melonjak seperti di negara maju yang melonjaknya 20 persen," lanjutnya.

Dari data Kemenkeu yang dikumpulkan dari IMF, utang publik AS naik sebesar 22,5 persen, Inggris sebesar 22,7 persen, Italia 27 persen dan Jepang 28,2 persen. Sementara itu, China yang menjadi pusat pandemi di awal hanya mengalami peningkatan utang publik sebesar 9,1 persen dan Singapura sebesar 1,2 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

utang sri mulyani G7
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top