Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HPTL Lebih Aman, Insentif Industri Dibutuhkan

Penggunaan Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) seperti vape, tembakau yang dipanaskan (HTP), snus, dan kantong nikotin dinilai memiliki risiko terhadap kesehatan lebih rendah dibandingkan menggunakan rokok konvensional yang ditinjau dari nilai tanda paparan senyawa hasil pembakaran.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 04 Februari 2021  |  16:41 WIB
NCIG International memutuskan untuk berinvestasi di Indonesia melihat potensi pasar rokok elektrik yang besar.  - FOTO REUTERS
NCIG International memutuskan untuk berinvestasi di Indonesia melihat potensi pasar rokok elektrik yang besar. - FOTO REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA — Penggunaan hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL) seperti vape, tembakau yang dipanaskan (HTP), snus, dan kantong nikotin dinilai lebih rendah risiko terhadap kesehatan dibandingkan rokok konvensional ditinjau dari nilai tanda paparan senyawa hasil pembakaran.

Tak hanya itu produk HPTL dinilai membantu menurunkan frekuensi penggunaan rokok konvensional. Untuk itu, konsep penyesuaian cukai berdasarkan profil risiko dibutuhkan dalam menyusun regulasi khusus HPTL bahkan insentif dibutuhkan dalam mendorong industri HPTL.

Kepala Departemen Farmasetika dan Peneliti Utama Departemen Farmasi Universitas Brawijaya Oktavia Eka Puspita mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan menggunakan metode systematic literature review untuk mengetahui apakah mungkin HPTL dapat mengurangi risiko kesehatan individu dibandingkan dengan merokok konvensional.

"Dengan menjadikan kandungan HPTL sebagai subjek utama penelitian. Dalam studi ini, kami telah menyeleksi 1.400 judul artikel publikasi hasil penelitian terkait riset HPTL dan terseleksi 30 judul artikel sesuai kriteria yang kami tentukan, di antaranya menggunakan metode randomized controlled trial (RCT),” katanya dalam diskusi virtual, Kamis (4/2/2021).

Oktavia menyebut penelitian-penelitian tersebut menggunakan senyawa hasil pembakaran (biomarker of exposure/BOE dan penanda fungsi kardiovaskular sebagai parameter penurunan risiko.

BOE merupakan senyawa yang sama dengan yang dikandung asap rokok dan/atau hasil metabolisme senyawa yang terkandung dalam asap rokok oleh tubuh menjadi penanda bahwa seseorang telah terpapar senyawa hasil pembakaran atau pemanasan rokok.

Berdasarkan parameter tersebut, BOE, tekanan darah, denyut nadi, dan pengaruh terhadap pembuluh darah pada pengguna HPTL lebih rendah dibandingkan pada pengguna rokok konvensional. "Hal ini menandakan bahwa penggunaan HPTL yang tepat dapat berpotensi membantu menurunkan risiko konsumsi nikotin," ujarnya.

Oktavia menjelaskan, berdasarkan salah satu hasil penelitian yang dipublikasikan tersebut sebagian besar pengguna vape mampu bertahan untuk berhenti merokok dalam 12 bulan.

Temuan ini menunjukkan, HPTL dapat digunakan dalam program penurunan frekuensi merokok yang diawasi secara medis. Oleh karena itu, produk-produk ini memiliki potensi pengurangan dampak buruk yang dapat bermanfaat bagi konsumen di Indonesia dan diperlukan uji klinis lebih lanjut dalam rangka penyusunan kebijakan di Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan.

Kepala Pusat Studi Konstitusi Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah mengatakan pengurangan dampak buruk sendiri telah dianggap bagian dari hak asasi manusia. Menurutnya, semua perokok berhak diberikan sarana untuk mengurangi dampak buruk terkait tembakau, salah satunya melalui kebijakan.

Kebijakan berdasarkan pendekatan pengurangan dampak buruk telah dilakukan di berbagai negara, seperti Selandia Baru, Britania Raya, dan Jepang untuk menurunkan jumlah perokok dengan memberikan insentif fiskal dan nonfiskal terhadap produk HPTL.

Trubus mengatakan Indonesia membutuhkan kebijakan pengurangan dampak buruk tembakau, dengan mendukung penggunaan produk alternatif minim risiko seperti HPTL. Idealnya, regulasi terkait HPTL harus terpisah dari rokok konvensional dan didasari dengan profil risiko produk.

"Belajar dari negara lain, konsumen dan pemain industri HPTL di Indonesia juga harus mendapatkan insentif fiskal dan nonfiskal untuk mengoptimalkan fungsi HPTL sebagai pengurangan dampak buruk tembakau,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Cukai Tembakau Industri Vape
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top