Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham Bank dan Kontraktor Inggris Bakal Naik Setelah Brexit, Ini Alasannya

Pakta perjanjian UE-Inggris akan mengakhiri ketidakpastian sejak referendum Brexit tahun 2016 yang menyebabkan saham Inggris tidak disukai.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 29 Desember 2020  |  12:52 WIB
Ilustrasi brexit - Reuters
Ilustrasi brexit - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Saham sektor perbankan dan kontraktor di Inggris Raya diyakini bakal menjadi fokus setelah Uni Eropa dan Inggris mencapai kesepakatan dagang Brexit.

Dilansir Bloomberg, Duta besar Uni Eropa memberikan lampu hijau untuk rancangan perjanjian perdagangan bebas blok itu dengan Inggris, sehingga membuka jalanpenerapan kesepakatan itu mulai 1 Januari 2021. Hari ini pemerintah Uni Eropa melakukan pemungutan suara terkait perjanjian itu, sedangkan di Inggris kesepakatan akan dibawa ke House of Commons besok.

Kepala strategi perusahaan kecil dan menengah di Jupiter Fund Management, Dan Nickol, mengatakan pakta tersebut akan mengakhiri ketidakpastian sejak referendum Brexit tahun 2016 yang menyebabkan saham Inggris tidak disukai.

Berita mengenai tercapainya kesepakatan itu muncul setelah minggu lalu saham Inggris terpukul oleh pemberlakuan kembali pembatasan akibat lonjakan kasus dan penemuan varian abru virus corona di negara itu.

Indeks FTSE 100 turun 1,7 persen pada 21 Desember sebelum naik kembali di akhir minggu karena harapan kesepakatan perdagangan Brexit tumbuh.

Kontrak berjangka pada Indeks FTSE 100 naik 0,9 persen pada 9:59 pagi ini di Singapura.

Adapun sektor-sektor yang paling sensitif terhadap pembicaraan Brexit, yang sebagian besar terekspos pada ekonomi Inggris, meliputi, Bank domestik seperti Natwest Group Plc, Barclays Plc, Lloyds Banking Group Plc, dan Virgin Money U.K. Plc.

Selain itu juga perusahaan jasa keuangan lain seperti Hargreaves Lansdown Plc dan St James's Place Plc, plus M&G Plc dan Aviva Plc juga dapat aktif.

Tak luput pula kontraktor Barrat Developments Plc, Persimmon Plc dan Taylor Wimpey Plc., properti komersial seperti British Land Co. Plc dan Land Securities Group Plc., serta peritel antara lain Tesco Plc, J Sainsbury Plc, dan Wm Morrison Supermarkets Plc.

Adapun kontraktor pelat merah seperti Capita Plc, Serco Group Plc, Babcock International Group Plc, dan Mitie Group Plc, juga terdampak perjanjian ini.

Saham Eropa yang memiliki eksposur besar ke Inggris antara lain produsen dapur Swedia Nobia AB (41 persen dari pendapatan), perusahaan asuransi Belanda Aegon NV (29 persen), peritel Pandora A / S (20 persen) dan grup telekomunikasi Spanyol Telefonica (15 persen) .

Di sisi lain, lonjakan poundsterling setelah kesepakatan tersebut dapat memberikan tekanan pada emiten pada indeks FTSE 100 dengan pendapatan luar negeri terbesar, terutama dari AS.

Di antara saham yang bakal tertekan termasuk emiten bahan konstruksi Ferguson Plc (88 persen pendapatan dari AS), penyedia data kredit Experian Plc (69 persen), perusahaan katering Compass Group Plc (61 persen) dan saham berkapitalisasi jumbo seperti raksasa minuman beralkohol Diageo Plc (47 persen) dan British American Tobacco Plc (46 persen).

David Coombs, manajer dana di Rathbone Multi-Asset Portfolios, sebelum perjanjian disepakati mengatakan kesepakatan itu harus memberikan dorongan untuk pengembalian ekuitas Inggris.

Namun, meningkatnya pengangguran dan pemulihan ekonomi yang lemah dari Covid-19 dapat meredam hal positif terkait kesepakatan Brexit.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa inggris bursa inggris Brexit
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top